Medianesia, Batam – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa Iran memberikan sinyal positif terkait izin bagi kapal tanker Indonesia untuk melintasi Selat Hormuz.
Saat ini, dua kapal tanker milik Pertamina masih berada di kawasan Teluk Persia dan belum dapat melanjutkan perjalanan melewati selat tersebut.
Baca juga: Kunjungan Mendadak ke Senen, Presiden Prabowo Sempat Ingin Blusukan Tanpa Dikenali
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Mulachela, menyampaikan bahwa pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran terus melakukan koordinasi dengan otoritas Iran guna memastikan keselamatan kapal dan awak.
Menurut Nabyl, pemerintah Iran telah memberikan tanggapan positif atas permintaan Indonesia untuk memberikan akses pelayaran bagi kedua kapal tersebut.
Namun, proses lanjutan masih mencakup aspek teknis dan operasional, sehingga belum ada kepastian waktu terkait kapan kapal dapat melintas.
Baca juga: KPK Ingatkan Batas Waktu LHKPN 31 Maret 2026, 96 Ribu Pejabat Belum Lapor
Di sisi lain, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan bahwa kondisi awak kapal tetap aman.
Dua kapal yang dimaksud adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang masing-masing memiliki fungsi berbeda dalam distribusi energi.
Pertamina Pride digunakan untuk mendukung kebutuhan energi nasional, sementara Gamsunoro melayani distribusi energi untuk pihak ketiga. Hingga kini, keduanya masih berada di Teluk Persia.
Baca juga: Indonesia Tunda Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza
Situasi ini terjadi setelah Iran menutup akses Selat Hormuz menyusul serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026. Penutupan tersebut berdampak pada jalur distribusi energi global.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melewati wilayah ini.
Gangguan di kawasan tersebut turut memengaruhi distribusi energi dan harga bahan bakar di sejumlah negara.
Baca juga: Dua Kargo Minyak Pertamina Masih Tertahan di Teluk Arab, Negosiasi Berlangsung
Meski demikian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa kondisi ini belum berdampak signifikan terhadap ketahanan energi nasional.
Pemerintah disebut telah menyiapkan alternatif pasokan energi, termasuk dari Amerika Serikat.(*)
Editor: Brp





