Biasanya diperlukan waktu lima hingga sepuluh tahun untuk mengembangkan tambang baru. Ketidakseimbangan antara meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan menjadi alasan mengapa harga banyak komoditas penting meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan di 2022.
Harga litium, misalnya, telah meningkat lebih dari 1000 persen sejak Januari 2020 hingga Maret 2022. Selain itu, inflasi hijau juga dipicu oleh penerapan pajak karbon. Pajak karbon adalah pajak yang dikenakan pada emisi karbon dioksida, yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim.
Pajak karbon bertujuan untuk mendorong perusahaan dan individu untuk mengurangi emisi karbon mereka.
Namun, pajak karbon juga dapat meningkatkan biaya produksi dan harga barang dan jasa. Sejauh ini, dampak inflasi hijau terhadap harga konsumen akhir jauh lebih kecil dibandingkan inflasi fosil.
Inflasi fosil dipicu oleh kenaikan harga minyak dan gas, yang merupakan sumber energi utama di dunia.
Kenaikan harga minyak dan gas disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia.
Namun seiring semakin banyaknya industri yang beralih ke teknologi rendah emisi, inflasi hijau diperkirakan akan memberikan tekanan pada harga berbagai produk selama masa transisi.
Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk mengatasi greenflation, seperti mengembangkan industri pengolahan dan pemurnian komoditas penting di dalam negeri, serta memberikan subsidi untuk pengembangan teknologi ramah lingkungan.(Brp)
Editor: Brp





