Medianesia.id, Batam – Singapura yang selama ini dikenal dengan pengelolaan keuangan yang disiplin dan tingkat tabungan tinggi, kini menghadapi tantangan baru.
Meningkatnya biaya hidup membuat banyak warganya kesulitan menabung dan lebih fokus pada pengeluaran jangka pendek.
Menurut para analis, gaya hidup yang mengutamakan pengalaman dan perawatan diri turut menggeser prioritas keuangan masyarakat. Hasilnya, banyak pekerja hidup dari gaji ke gaji.
CNBC Indonesia melaporkan, Jovan Yeo, warga berusia 31 tahun yang bekerja di perusahaan layanan perbankan digital, mengaku penghasilannya habis setiap bulan untuk membayar tagihan kartu kredit, memberi uang saku orang tua, membayar asuransi, dan investasi. Sisanya digunakan untuk liburan, makan di luar, dan biaya kebugaran.
“Setelah semua itu, gaji saya kembali nol lagi,” ujarnya.
Data perusahaan penggajian ADP tahun 2025 menunjukkan 60% pekerja di Singapura hidup dari gaji ke gaji pada 2024.
Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata Asia Pasifik yang berada di 48%, serta melampaui China, Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia.
Tren ini sejalan dengan laporan Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) yang menyebutkan jumlah warga berusia 20 hingga 50 tahun yang merencanakan keuangan untuk pensiun menurun pada 2024 dibanding tahun sebelumnya.
Ekonom Maybank Research, Brian Lee, menjelaskan, meskipun inflasi Singapura turun ke level terendah dalam empat tahun, biaya hidup tetap tinggi akibat faktor struktural seperti harga perumahan dan biaya impor yang mahal.
Data Numbeo menempatkan Singapura di peringkat kelima biaya hidup tertinggi dunia pada pertengahan 2025, dengan kenaikan 11% dari tahun sebelumnya.
Survei YouGov pada April 2025 menunjukkan 72% responden menganggap biaya hidup sebagai masalah utama, diikuti isu layanan kesehatan dan penuaan populasi.
Maybank mencatat pendapatan riil median turun rata-rata 0,4% per tahun antara 2019 dan 2024, membalikkan tren pertumbuhan 2,2% per tahun pada 2014–2019.
Harga Perumahan Naik Tajam
Harga jual kembali apartemen publik yang menampung hampir 80% warga Singapura naik 9,6% pada 2024, lebih tinggi dibanding kenaikan 4,9% pada 2023.
Keterbatasan lahan, ruang, dan sumber daya alam membuat harga properti dan kendaraan di negara ini tetap tinggi, sementara ketergantungan pada impor membuat inflasi domestik rentan terhadap gejolak global.(*)
Editor: Brp





