Medianesia, Batam – Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day diperingati setiap 8 Maret di berbagai negara.
Peringatan ini bertujuan menyoroti pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik perempuan, sekaligus mendorong upaya mempercepat kesetaraan gender.
Selain sebagai momentum perayaan, hari tersebut juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang kesetaraan perempuan serta mendukung berbagai kegiatan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan.
Baca juga: Iran Balas Serangan AS-Israel, Ledakan Terdengar hingga Dubai
Direktur Eksekutif UN Women, Sima Bahous, menyampaikan tema Hari Perempuan Internasional 2026 adalah “Hak. Keadilan. Aksi. Untuk semua Perempuan dan Anak Perempuan”.
Dalam pernyataan resminya, Bahous mengucapkan selamat Hari Perempuan Internasional kepada perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia.
“Selamat Hari Perempuan Internasional 2026. Ini adalah hari untuk menandai setiap suara yang disampaikan, setiap hambatan yang dihadapi, dan setiap hak yang diperjuangkan oleh perempuan dan anak perempuan,” kata Bahous, Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: Comac Tancap Gas di Singapore Airshow, Tantang Dominasi Boeing dan Airbus
Ia menilai dunia berada pada titik yang penting dalam upaya mencapai kesetaraan gender. Menurutnya, kemajuan telah dicapai, tetapi berbagai tantangan masih muncul.
Bahous menyebut sejumlah perkembangan positif, seperti penguatan undang-undang terkait kekerasan dalam rumah tangga serta meningkatnya jumlah anak perempuan yang mengakses pendidikan. Ia juga menilai gerakan perempuan kini semakin terhubung dan lebih terlihat.
Namun demikian, Bahous juga menyoroti adanya peningkatan kekerasan terhadap perempuan, termasuk yang terjadi di ruang digital. Ia juga menyinggung adanya pelanggaran hak yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Baca juga: DOJ AS Rilis Dokumen Tambahan Kasus Jeffrey Epstein, Sejumlah Tokoh Ternama Disebut
Selain itu, ia mengingatkan adanya kondisi impunitas, yakni ketika pelaku pelanggaran hak asasi manusia tidak menjalani proses hukum seperti penyelidikan, penangkapan, maupun penuntutan.
Bahous mengajak masyarakat global untuk terus menyuarakan hak-hak perempuan agar mereka dapat hidup dengan aman, bebas menyampaikan pendapat, dan memperoleh perlakuan setara.
Menurutnya, UN Women berupaya memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak perempuan melalui dukungan terhadap sistem hukum, lembaga, dan kebijakan di berbagai negara.
Sejarah Hari Perempuan Internasional
Baca juga: Ekspor Minyak Venezuela Terhenti Usai AS Blokade Kapal Tanker
Peringatan Hari Perempuan Internasional memiliki sejarah panjang sejak awal abad ke-20, masa ketika dunia industri berkembang pesat dan berbagai gerakan sosial mulai muncul.
Pada 1910, gagasan tentang Hari Perempuan Internasional disampaikan oleh aktivis asal Jerman, Clara Zetkin, dalam Konferensi Internasional Perempuan Pekerja di Kopenhagen, Denmark.
Zetkin mengusulkan agar setiap negara memperingati Hari Perempuan pada tanggal yang sama setiap tahun untuk menyuarakan tuntutan hak perempuan.
Konferensi tersebut dihadiri lebih dari 100 perempuan dari 17 negara, termasuk perwakilan serikat pekerja, partai sosialis, serta organisasi perempuan pekerja.
Usulan tersebut kemudian disepakati dan menjadi dasar peringatan Hari Perempuan Internasional yang berlangsung hingga saat ini.
Dalam peringatan ini juga dikenal tiga warna simbolik, yaitu ungu, hijau, dan putih. Kombinasi warna tersebut berasal dari gerakan Women’s Social and Political Union di Inggris pada 1908.
Ungu melambangkan keadilan dan martabat, hijau melambangkan harapan, sedangkan putih melambangkan kemurnian.(*)
Editor: Brp





