Respons Tawaran Mediasi Indonesia, Pemerintah Iran Ungkap Alasan Menolak Negosiasi dengan AS

Respons Tawaran Mediasi Indonesia, Pemerintah Iran Ungkap Alasan Menolak Negosiasi dengan AS
Radar peringatan dini dan pengendalian tembakan THAAD AN/TPY-2 di Pangkalan Udara Muwaffq al-Salti di Yordania hancur setelah terkena rudal Iran. Foto: X/Iranmilitary24.

Medianesia, Batam – Pemerintah Iran menyatakan tidak akan membuka ruang negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Sikap tersebut disampaikan setelah sejumlah negara, termasuk Indonesia, menawarkan diri untuk memfasilitasi dialog guna meredakan konflik.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengatakan negaranya tidak mempertimbangkan perundingan dengan Amerika Serikat dalam kondisi saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3), menanggapi kesiapan Indonesia, termasuk Presiden Prabowo Subianto, untuk menjadi mediator dalam upaya meredakan ketegangan kawasan.

“Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” kata Boroujerdi, dikutip dari Antara.

Boroujerdi menyebut Iran sebelumnya telah beberapa kali melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat. Namun menurutnya, proses tersebut tidak menghasilkan kesepakatan yang bertahan.

Ia mencontohkan perundingan terkait program nuklir Iran yang menghasilkan kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action pada 2015. Dalam perkembangannya, Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut.

Boroujerdi juga menyinggung proses negosiasi lain yang berlangsung dalam beberapa putaran.

Menurutnya, di tengah proses tersebut terjadi serangan terhadap Iran yang ia rujuk sebagai peristiwa pada Juni 2025.

Ia menambahkan, upaya negosiasi lain juga pernah dilakukan dengan mediasi Oman. Saat itu, delegasi Iran dan Amerika Serikat menjalani putaran ketiga perundingan tidak langsung di Geneva, Switzerland, sebelum operasi militer antara kedua negara dilaporkan terjadi pada 28 Februari.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Boroujerdi menilai Iran tidak akan menerima bentuk perundingan apa pun dalam fase konflik saat ini.

Selain Indonesia, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi mediator. Menurut keterangan Kremlin, Putin menyampaikan tawaran tersebut dalam percakapan telepon dengan Presiden Mohammed bin Zayed Al Nahyan dari Uni Emirat Arab.

Dalam pembicaraan itu, Putin disebut menyampaikan keluhan dari Uni Emirat Arab terkait serangan yang terjadi di kawasan tersebut kepada Pemerintah Iran.(*)

Editor: Brp

Pos terkait