Medianesia, Batam – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Metalurgi mengembangkan material berbasis titanium untuk implan gigi yang diklaim lebih tahan korosi dan stabil digunakan dalam jangka panjang di lingkungan rongga mulut.
Pengembangan ini diharapkan dapat mendukung industri alat kesehatan nasional agar mampu menghadirkan produk implan yang lebih aman, tahan lama, dan memiliki daya saing.
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin Cahya Sutowo bersama Galih Senopati, Rahma Nisa Hakim, Aprilia Erryani, Dhyah Annur, Franciska Pramuji Lestari, Bintoro Siswayanti, Made Subekti Dwijaya, Yudi Nugraha Thaha, Albertus Deny Heri Setyawan, dan Ika Kartika.
Baca juga: Bawang Putih, Manfaat, Cara Konsumsi, dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Tim peneliti mengembangkan paduan titanium bebas vanadium Ti-6Al-6Mo yang dilapisi hydroxyapatite (HA) menggunakan teknologi high-velocity oxygen fuel (HVOF).
Dalam wawancara bersama tim Humas BRIN pada Rabu (13/5/2026), Cahya Sutowo, menjelaskan bahwa rongga mulut menjadi lingkungan yang cukup menantang bagi material implan.
Hal itu karena implan terus terpapar saliva, fluoride dari pasta gigi dan obat kumur, hingga antibiotik yang dapat memicu korosi pada logam.
Baca juga: Manfaat Alpukat, Superfood Kaya Nutrisi yang Perlu Ada dalam Diet Sehat
“Implan gigi harus mampu bertahan dalam kondisi lingkungan mulut yang kompleks dan agresif. Karena itu kami mengembangkan pelapisan hydroxyapatite pada titanium agar ketahanan korosi dan sifat biologisnya meningkat,” ujarnya.
Menurut Cahyo, titanium selama ini menjadi material utama untuk implan karena memiliki karakter kuat, ringan, dan biokompatibel.
Namun, paduan titanium konvensional seperti Ti-6Al-4V masih memiliki kandungan vanadium yang dinilai berpotensi toksik dalam penggunaan jangka panjang.
Baca juga: 400 Warga Tanjungpinang Alami Gangguan Kejiwaan
Sebagai alternatif, BRIN mengembangkan paduan titanium bebas vanadium Ti-6Al-6Mo yang dianggap lebih aman dan memiliki ketahanan aus yang baik.
Material tersebut kemudian dilapisi hydroxyapatite untuk membantu proses penyatuan implan dengan jaringan tulang.
“Hydroxyapatite membantu meningkatkan osseointegrasi atau kemampuan implan menyatu dengan tulang, sehingga dapat meningkatkan keberhasilan penggunaan implan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Baca juga: Puluhan Orang Dipasung, Jumlah ODGJ di Batam Mengkhawatirkan
Dalam penelitian ini, pelapisan hydroxyapatite dilakukan menggunakan metode HVOF. Teknologi tersebut menghasilkan lapisan yang lebih rapat, memiliki daya lekat kuat, dan porositas rendah dibanding metode pelapisan konvensional.
Hasil pengujian menunjukkan lapisan hydroxyapatite mampu meningkatkan ketahanan korosi secara signifikan pada berbagai simulasi lingkungan mulut, termasuk saliva buatan yang mengandung fluoride dan antibiotik gentamisin.
Material yang telah dilapisi HA tercatat memiliki laju korosi hingga 70 persen lebih rendah dibanding material tanpa pelapisan.
Selain lebih tahan korosi, material hasil pengembangan juga memiliki sifat hidrofilik yang lebih baik sehingga mendukung adhesi sel dan membantu proses penyatuan implan dengan jaringan tulang.
Cahyo mengatakan penelitian ini menjadi bagian dari upaya BRIN dalam memperkuat penguasaan teknologi biomaterial sekaligus mendukung kemandirian industri alat kesehatan nasional.
“Pengembangan biomaterial untuk aplikasi medis membutuhkan integrasi antara riset material, teknologi manufaktur, dan kebutuhan klinis. Harapannya, hasil riset ini dapat menjadi fondasi bagi pengembangan implan medis nasional yang lebih inovatif dan berdaya saing,” katanya.
Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Physica Scripta tahun 2025 dengan judul Enhanced Multi-Environment Corrosion Resistance of HVOF-Sprayed Hydroxyapatite Coatings on Ti-6Al-6Mo Alloy for Dental Implants.
Ke depan, penelitian lanjutan akan difokuskan pada pengujian biologis untuk memastikan keamanan dan efektivitas klinis material implan yang dikembangkan.(*)
Editor: Brp





