Medianesia, Tanjungpinang – Kasus malaria di Tanjungpinang melonjak tajam pada tahun 2026. Hingga April, penyakit yang disebabkan parasit Plasmodium itu tercatat mencapai 55 kasus.
Jumlah tersebut melampaui total kasus sepanjang tahun 2025 yang hanya mencapai 53 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Rustam, mengatakan puluhan kasus malaria tahun ini paling banyak ditemukan di wilayah Senggarang dan Kampung Bugis.
Baca juga: Hari Kartini 2026, Sekda Kepri Ikut Talk Show KemenPPPA Bahas Pemberdayaan Perempuan
Menurutnya, tingginya kasus malaria pada awal tahun ini dipengaruhi faktor relaps atau kambuh, serta kasus impor yang kemudian menular melalui gigitan nyamuk.
“Kasus malaria yang muncul ini sebagian merupakan relaps dan juga kasus impor, yang kemudian ditularkan oleh nyamuk perantara,” kata Rustam, Jumat, 1 Mei 2026.
Ia menjelaskan, wilayah Senggarang dan Kampung Bugis memang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap penyebaran malaria.
Baca juga: Sidang Korupsi Dana BOS di SMKN Kundur, 2 Terdakwa Ditahan, 1 Ikut Sidang Virtual
Kondisi geografis yang masih banyak rawa dinilai menjadi habitat ideal bagi nyamuk Anopheles berkembang biak.
“Dua wilayah itu memang wilayah rawan karena banyak rawa yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles,” tambahnya.(Mhd)
Editor: Brp





