Medianesia, Tanjungpinang – Mega proyek Jembatan Batam–Bintan (Babin) terjebak dalam ketidakpastian. Setelah bertahun-tahun digadang sebagai penghubung strategis antar antara dua pulau besar di Kepri, realisasi proyek senilai Rp17 triliun itu kini justru bergantung pada minat investor swasta.
Pemerintah Provinsi Kepri belum mampu memastikan kapan pembangunan akan dimulai. Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, mengakui hingga saat ini proyek tersebut masih sebatas tahap penjajakan, meski sudah dilakukan berbagai upaya komunikasi dengan pemerintah pusat.
Baca juga: Tinggalkan Motor Saat Kabur, Pelaku Curat di Bintan Timur Ditangkap
“Kalau ada swasta yang mau membangun secara menyeluruh dengan tarif tol yang bisa memenuhi, ya kita dorong,” ujarnya, Rabu, 15 April 2026.
Tak hanya soal pendanaan, desain proyek pun kini ikut dinegosiasikan. Ansar mengungkapkan, ada investor yang berminat namun mengajukan perubahan desain sebagai syarat keterlibatan.
“Ada yang menyarankan merubah desainnya, supaya mereka yang buat,” katanya.
Baca juga: Kasus Kematian Bripda Nathanael Simanungkalit, 8 Saksi Diperiksa, 1 Jadi Tersangka
Kondisi ini menunjukkan posisi tawar pemerintah yang belum sepenuhnya kuat, di mana desain proyek strategis bisa berubah mengikuti preferensi investor.
Selain investor domestik, minat juga datang dari luar negeri, termasuk dari China. Namun hingga kini, peluang tersebut belum berlanjut ke tahap konkret.
Baca juga: Penyelundupan 691 Gram Sabu via Kargo Bandara RHF Tanjungpinang Digagalkan
Pemerintah daerah mengaku belum menjembatani investor asing tersebut ke pemerintah pusat, sebagai pemegang peran kunci dalam proyek infrastruktur lintas wilayah seperti ini.
Seperti diketahuim, Jembatan Babin dirancang menjadi salah satu yang terpanjang di Indonesia, dengan total panjang mencapai 14,6 kilometer dan bentangan utama sekitar 7,6 kilometer.
Baca juga: Gubernur Usul Gaji PPPK Pemprov Kepri Ditanggung Pusat
Proyek ini akan menghubungkan Batam, Bintan, serta kawasan strategis lain seperti Rempang dan Galang, yang selama ini digadang sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru di Kepri. Namun hingga kini, proyek tersebut masih berada di level wacana panjang tanpa kepastian waktu.(Mhd)
Editor: Brp





