Ayam Hidup Asal Bintan Tembus Pasar Singapura, Permintaan Terus Naik

Ayam Hidup Asal Bintan Tembus Pasar Singapura, Permintaan Terus Naik
Petugas Karantina dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri) melakukan sertifikasi dan pengawasan ekspor ayam hidup ke Singapura. Pengiriman dilakukan melalui Pelabuhan Seri Payung, Tanjungpinang. Foto: Karantina Kepri.

Medianesia, Tanjungpinang – Petugas Karantina dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri) melakukan sertifikasi dan pengawasan ekspor ayam hidup ke Singapura. Pengiriman dilakukan melalui Pelabuhan Seri Payung, Tanjungpinang.

Tingginya permintaan ayam dari Negeri Singa menjadi sinyal positif bagi sektor peternakan di Bintan.

Pada pengiriman kali ini, Karantina Kepri mencatat sebanyak 28.512 ekor ayam potong (broiler) disertifikasi dan dikirim dalam enam kontainer terbuka untuk memastikan ayam tetap hidup dan sehat hingga sampai tujuan.

Baca juga: Penurunan Dana Transfer Tekan Anggaran Kepri, TPP ASN Masih Ditinjau Ulang

“Untuk bisa tembus pasar ekspor, semua pihak telah berkoordinasi intensif. Karantina siap memfasilitasi sertifikasi bagi eksportir yang sudah berjalan maupun calon eksportir baru,” ujar Hasim, Kepala Karantina Kepri.

Sebelum mendapatkan sertifikat kesehatan, setiap ayam diperiksa secara fisik dan diuji laboratorium untuk memastikan bebas dari penyakit, termasuk flu burung atau Avian Influenza.

Karantina Kepri mencatat, sepanjang 2023 ekspor ayam ke Singapura terjadi tiga kali, dua kali pada 2024, dan dua kali lagi hingga Oktober 2025. Menariknya, ekspor kali ini dilakukan untuk dua pembeli berbeda di Singapura.

Baca juga: Inflasi Kepri September 2025 Terkendali di Angka 2,70 Persen

Ekspor ketujuh ini secara resmi dilepas oleh Gubernur Kepri Ansar Ahmad, didampingi Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DP2KH) Kepri. Ansar mengapresiasi langkah PT JC dan anak perusahaannya, PT IA, yang berinvestasi di sektor peternakan Bintan.

“Sebelumnya Kepri masih mengandalkan pasokan ayam dan telur dari luar daerah. Masuknya PT IA jadi angin segar, apalagi sekarang sudah bisa ekspor. Tapi kami tetap minta agar pasar lokal jadi prioritas utama, dan mereka sudah komitmen,” kata Ansar.

Keberhasilan ekspor ayam hidup ini tak lepas dari kerja sama antara pemerintah daerah, instansi vertikal, pelaku usaha, dan masyarakat.

Baca juga: Cara Mudah Cek Penerima Bansos BPNT Rp600 Ribu Tahap 3 Secara Online

Dukungan berbagai pihak dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan penyediaan pangan yang sehat dan aman.

Pemerintah pusat pun memberi perhatian besar terhadap industrialisasi peternakan, termasuk hilirisasi produk hewan, ikan, dan tumbuhan.

Badan Karantina Indonesia turut berperan aktif dalam mendukung program Asta Cita yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Sementara itu, Anwar Tandiono (Acai), Vice President and Feed Operation Sumatera PT JC, menyebut ekspor ayam hidup dengan tingkat kematian di bawah 1 persen adalah pencapaian yang membanggakan. Meski begitu, pihaknya tetap membatasi jumlah ekspor.

“Permintaan dari Singapura mencapai sekitar 120 ribu ekor ayam hidup per hari. Tapi kami batasi karena produksi di dalam negeri masih terbatas. Sesuai arahan Pak Gubernur dan Pak Bupati, prioritas utama tetap untuk memenuhi kebutuhan lokal,” jelas Acai.(*)

Editor: Brp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *