Medianesia.id, Tanjungpinang – Bersikap sopan saat menggunakan ChatGPT, seperti mengucapkan “tolong” atau “terima kasih”, ternyata punya dampak tak terduga bagi OpenAI—yakni membengkaknya biaya operasional.
CEO OpenAI, Sam Altman, mengungkap bahwa kebiasaan pengguna yang sopan tersebut berkontribusi pada lonjakan penggunaan energi yang signifikan.
“Puluhan juta dolar yang dihabiskan—kalian tidak akan pernah tahu,” tulis Altman di akun X miliknya, menanggapi pertanyaan warganet soal dampak finansial dari interaksi sopan terhadap ChatGPT.
Pasalnya, ChatGPT berjalan di atas model bahasa besar (large language model/LLM) yang memerlukan daya komputasi sangat tinggi. Sistem ini ditopang ribuan GPU canggih dalam pusat data yang rakus energi.
Sebagai perbandingan, satu respons sederhana dari AI—misalnya paragraf atau email—bisa menghabiskan sekitar 0,14 kilowatt-jam (kWh), setara dengan menyalakan 14 lampu LED selama satu jam. Jika dikalikan dengan miliaran interaksi harian, total konsumsi energinya pun melonjak drastis.
Mengutip New York Post, Kamis, 24 April 2025, saat ini pusat data menyumbang sekitar 2 persen dari total konsumsi listrik global. Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring melonjaknya penggunaan AI generatif.
Namun begitu, sejumlah pakar menilai bahwa bahasa sopan tetap penting dalam membentuk interaksi yang lebih sehat antara manusia dan AI.
Kurtis Beavers dari tim desain Microsoft Copilot mengatakan bahwa nada sopan dari pengguna cenderung menghasilkan respons yang lebih kolaboratif dan profesional dari AI.
“Ketika AI menangkap nada sopan, ia membalas dengan sikap yang sama,” tulis Microsoft WorkLab, media internal yang membahas integrasi AI di dunia kerja.
Survei tahun lalu bahkan mencatat, 67 persen pengguna di AS rutin menggunakan bahasa sopan saat berinteraksi dengan chatbot.
(*)
Editor: Brp





