Medianesia, Tanjungpinang – Untuk mendukung upaya pelestarian Dugong, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) meluncurkan Dugong Conservation Dashboard. Program ini merupakan hasil kolaborasi dengan PT PELINDO, DKP Kepri, dan KKP.
Perairan Bintan dulunya dikenal sebagai habitat alami Dugong. Namun, keberadaan mamalia laut ini kini semakin jarang terlihat dan lebih sering menjadi bagian dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Dari Anggrek hingga Ikan, Peneliti BRIN Temukan 51 Spesies Baru
Melansir situs resmi UMRAH, dashboard ini dirancang sebagai sistem pemantauan digital yang menggabungkan teknologi dengan pengetahuan lokal masyarakat pesisir.
Dalam program ini, UMRAH mengembangkan Dugong App serta proyek “Chasing the Dugong”.
Tim peneliti menggunakan drone untuk memantau wilayah seperti Pulau Sumpat hingga Dompak Selatan dari udara.
Baca juga: Berkat Internet dan Data Center, Otto Toto Sugiri Jadi Raja Teknologi Indonesia
Di sisi lain, masyarakat di wilayah Pengudang dan Berakit dilibatkan langsung dalam pengumpulan data.
Melalui aplikasi tersebut, nelayan dapat melaporkan kemunculan dugong secara real-time.
Pendekatan ini dikenal sebagai citizen science, yaitu keterlibatan masyarakat dalam proses pengumpulan data ilmiah. Dengan cara ini, informasi yang diperoleh menjadi lebih luas dan berkelanjutan.
Baca juga: Panik HP Hilang? Ini Cara Melacaknya Akurat dengan Google Maps
Peluncuran program ini juga diwarnai dengan berbagai cerita dari masyarakat pesisir.
Warga mengingat kembali kondisi laut di masa lalu, ketika dugong, penyu, dan lumba-lumba masih sering terlihat di perairan sekitar.
Selain itu, perubahan cara pandang masyarakat terhadap dugong juga mulai terlihat.
Baca juga: Sosok di Balik Bitcoin, Dokumenter HBO Telusuri Identitas Satoshi Nakamoto
Jika sebelumnya mamalia ini sempat dimanfaatkan untuk konsumsi, kini kesadaran untuk menjaga keberadaannya semakin meningkat.
“Dasbor ini memudahkan kami untuk melapor. Harapan kami sederhana: ingin melihat laut kami kembali ‘hidup’ seperti dulu lagi,” ungkap warga.
Program ini juga menarik perhatian mahasiswa dari Republic Polytechnic, Singapura.
Baca juga: 5 Cara Membaca Pesan WhatsApp Tanpa Ketahuan Pengirim
Kehadiran mereka menunjukkan adanya kolaborasi lintas negara dalam bidang konservasi laut.
Pertemuan antara peneliti, mahasiswa, dan masyarakat lokal menjadi ruang berbagi pengetahuan, baik dari sisi ilmiah maupun pengalaman langsung di lapangan.
Melalui program ini, UMRAH mendorong pendekatan konservasi yang berbasis data dan partisipasi masyarakat.
Baca juga: Jack Dorsey Luncurkan Bitchat, Aplikasi Pesan Terenkripsi Tanpa Internet dan Nomor Telepon
Pemanfaatan teknologi seperti drone dan dashboard digital membantu proses pemantauan menjadi lebih sistematis.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menjaga keberadaan dugong di perairan Bintan, sekaligus memperkuat kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
Dugong, Mamalia Laut Herbivora yang Bergantung pada Rumput Laut
Baca juga: WhatsApp, Netflix, YouTube Untung, Tapi Siapa yang Bayar Jaringan Internet di Indonesia
Dugong atau duyung (Dugong dugon) merupakan mamalia laut yang termasuk dalam kelompok Sirenia, bersama manatee.
Hewan ini dikenal sebagai “sapi laut” dan dapat hidup hingga sekitar 22–25 tahun, bahkan dalam beberapa kasus bisa mencapai usia lebih dari 70 tahun.
Berbeda dari ikan, dugong adalah mamalia yang menyusui anaknya. Secara evolusi, hewan ini masih memiliki kekerabatan dengan Gajah.
Baca juga: Deretan Aplikasi Populer yang Ternyata Dikembangkan Eks Intelijen Israel
Dugong juga menjadi satu-satunya spesies yang tersisa dalam famili Dugongidae.
Sebaran dan Habitat Dugong
Dugong dapat ditemukan di perairan Indo-Pasifik yang mencakup setidaknya 37 negara. Populasi terbesar banyak dijumpai di wilayah Indonesia bagian timur dan perairan utara Australia.
Sebagai satu-satunya mamalia laut herbivora, dugong mengandalkan rumput laut sebagai sumber makanan utama.
Baca juga: Google Gunakan AI untuk Lindungi Pengguna, Tapi Apa Artinya untuk Privasi Kamu?
Karena itu, habitatnya terbatas pada wilayah pesisir yang memiliki padang lamun, seperti teluk dangkal dan kawasan hutan bakau.
Ciri khas dugong terlihat dari bentuk moncongnya yang mengarah ke bawah. Struktur ini membantu mereka mencari dan memakan rumput laut di dasar perairan.
Dugong membutuhkan perairan yang tenang dan dangkal untuk bertahan hidup. Selain itu, mereka memerlukan area jelajah yang cukup luas untuk mencari makan.
Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Nomor Bontot di Asia Tenggara, Padahal Sudah Era 5G
Ketergantungan yang tinggi terhadap padang lamun membuat dugong rentan terhadap perubahan lingkungan.
Kerusakan ekosistem pesisir secara langsung berdampak pada keberlangsungan hidupnya.
Ancaman terhadap Populasi Dugong
Selama ribuan tahun, dugong menjadi target perburuan karena daging dan minyaknya. Saat ini, tekanan terhadap populasi dugong semakin meningkat akibat berbagai faktor, seperti perusakan habitat pesisir, aktivitas penangkapan ikan, pembangunan wilayah pantai serta perubahan lingkungan laut.
Selain itu, dugong juga menghadapi ancaman alami seperti badai, паразit, serta predator seperti hiu, paus pembunuh, dan buaya.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan dugong sebagai spesies yang terancam punah.
Sementara itu, Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) melarang perdagangan produk yang berasal dari hewan ini.
Upaya Perlindungan Dugong
Perlindungan dugong juga diatur dalam beberapa konvensi internasional, antara lain:
Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD)
CITES (Convention on International Trade in Endangered Species)
Convention on Migratory Species (CMS)
Meski telah dilindungi di berbagai negara, tingkat kelahiran dugong yang rendah membuat pemulihan populasinya membutuhkan waktu yang panjang.(*)
Editor: Brp





