Catat Jadwalnya, AJI Tanjungpinang Adakan Nobar Film Dokumenter Pesta Babi

Catat Jadwalnya, AJI Tanjungpinang Adakan Nobar Film Dokumenter Pesta Babi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Tanjungpinang mengundang masyarakat untuk menghadiri kegiatan nonton bareng atau nobar film dokumenter Pesta Babi yang akan digelar pada Sabtu, 23 Mei 2026. Foto: AJI Tanjungpinang.

Medianesia, Tanjungpinang – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Tanjungpinang mengundang masyarakat untuk menghadiri kegiatan nonton bareng atau nobar film dokumenter Pesta Babi yang akan digelar pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 19.00 WIB di Sekretariat AJI Tanjungpinang, Komplek Bincen Blok C Nomor 58, Kota Tanjungpinang.

Melalui acara ini, peserta tidak hanya diajak menyaksikan pemutaran film dokumenter, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam agenda solidaritas melalui donasi.

Panitia mengajak masyarakat hadir dengan semangat “Datang, Tonton, dan Berdonasi”.

Acara nobar ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi ruang berkumpul sekaligus tempat berdiskusi bagi masyarakat yang tertarik pada isu sosial, budaya, hingga kemanusiaan.

Jadwal Nobar Film Pesta Babi
Hari/Tanggal: Sabtu, 23 Mei 2026
Waktu: 19.00 WIB
Lokasi: Sekretariat AJI Tanjungpinang, Komplek Bincen Blok C No 58, Kota Tanjungpinang

Sinopsis Film Pesta Babi

Film Pesta Babi merupakan karya Cypri Paju Dale yang berkolaborasi dengan Dandhy Laksono. Film dokumenter ini mengangkat cerita tentang kehidupan masyarakat adat Papua di tengah masuknya berbagai proyek pembangunan berskala besar.

Istilah “kolonialisme” yang muncul dalam pembahasan film disebut menggambarkan situasi yang dialami masyarakat adat dalam cerita dokumenter tersebut.

Film ini diawali dengan kisah Yasinta Moiwend, perempuan dari suku Marind Anim di Merauke, yang terkejut melihat kapal besar bersandar di dermaga kampungnya pada suatu pagi di bulan Mei.

Kapal tersebut membawa ratusan ekskavator dan dikawal tentara Indonesia. Kedatangan alat berat itu disebut menjadi bagian awal proyek besar dalam Proyek Strategis Nasional untuk produksi pangan dan energi di Papua.

Yasinta tidak mengetahui bahwa wilayah tempat tinggalnya menjadi titik awal proyek konversi hutan berskala besar untuk perkebunan industri yang dikaitkan dengan program ketahanan pangan dan transisi energi. Luas kawasan yang masuk dalam proyek itu disebut mencapai 2,5 juta hektar.

Cerita kemudian berlanjut pada pengalaman Vincen Kwipalo dari suku Yei. Ia menemukan tanah marganya telah dipatok dengan tulisan “Tanah Milik TNI AD”.

Belakangan, Vincen mengetahui lahan tersebut digunakan untuk pembangunan markas batalyon militer.

Di sisi lain, Franky Woro bersama komunitas Awyu di Boven Digoel melakukan aksi pemasangan palang adat dan salib merah berukuran besar untuk menolak masuknya perusahaan serta aparat militer ke wilayah adat mereka.

Gerakan tersebut dikenal dengan nama Gerakan Salib Merah dan dilakukan oleh sejumlah komunitas adat lainnya di Papua.

Disebutkan, sekitar 1.800 salib merah dipasang sebagai simbol perlindungan terhadap tanah dan hutan adat masyarakat setempat.(*)

Editor: Brp

Pos terkait