Medianesia.id, Batam – Belakangan ini, aplikasi scan retina, World App menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Aplikasi ini diklaim menawarkan imbalan sekitar Rp800 ribu bagi siapa pun yang bersedia memberikan data biometrik iris mata mereka. Namun, apa sebenarnya World App dan siapa yang berada di balik teknologi ini?
World App merupakan bagian dari ekosistem teknologi yang lebih luas yang dikembangkan oleh Worldcoin, sebuah proyek berbasis blockchain yang digagas oleh Sam Altman, CEO OpenAI.
Worldcoin membagi layanannya menjadi empat komponen, yakni World ID, Sebuah sistem identitas digital yang memungkinkan pengguna membuktikan bahwa mereka adalah manusia nyata, bukan bot, secara anonim dan aman.
Sistem ini hadir sebagai respons terhadap berkembangnya kecerdasan buatan (AI), dan digunakan untuk verifikasi di berbagai platform digital seperti aplikasi sosial, voting online, hingga pembelian tiket konser.
Lalu, World App, merupakan aplikasi dompet digital yang menyimpan World ID pengguna. Selain menyimpan identitas, aplikasi ini memungkinkan pengguna menyimpan aset digital, menggunakan aplikasi mini, dan mengakses layanan berbasis blockchain lainnya.
Kemudian, World Chain, Blockchain yang dirancang khusus untuk manusia, bersifat open-source, tanpa izin (permissionless), dan memprioritaskan tata kelola komunitas.
Keunggulan World Chain antara lain, bebas biaya gas bagi pengguna yang telah diverifikasi, transaksi kripto yang lebih mudah, dan distribusi aset digital yang merata melalui World App.
Selanjutnya, Worldcoin (WLD), merupakan mata uang kripto native dari jaringan World. Token ini dapat digunakan untuk membayar gas di World Chain, digunakan dalam game, dan diberikan secara gratis kepada manusia yang telah diverifikasi melalui proses biometrik.
Inti dari proses verifikasi World ID adalah sebuah perangkat canggih berbentuk bola yang disebut Orb.
Orb dilengkapi kamera dan sensor berteknologi tinggi yang memindai iris mata, mengambil gambar wajah, tubuh, serta mendeteksi tanda vital seperti detak jantung dan pernapasan menggunakan radar Doppler.
Data biometrik ini kemudian digunakan untuk menciptakan kode terenkripsi yang disebut IrisHash.
Kode ini disimpan secara lokal di dalam Orb dan tidak dibagikan ke pihak lain. Proses pencocokan IrisHash dilakukan secara privat menggunakan teknologi kriptografi yang dikenal sebagai zero knowledge proof, untuk memastikan satu orang tidak bisa mendaftar lebih dari sekali.
Jika tidak ditemukan kecocokan, pengguna dianggap unik dan dapat melanjutkan proses pendaftaran.
Setelah itu, data biometrik yang tersimpan di Orb akan dihapus, kecuali bila digunakan sementara untuk melatih model AI yang mendeteksi penipuan.
Klaim soal pemberian Rp800 ribu atau token Worldcoin kepada pengguna yang bersedia memindai iris memang benar, tetapi imbalan ini tergantung pada regulasi di masing-masing negara dan nilai tukar token di pasar.
Di wilayah yang mengizinkan, pengguna yang lolos verifikasi bisa menerima token WLD secara cuma-cuma.
Namun, polemik muncul karena isu privasi dan keamanan data biometrik yang dikumpulkan oleh perusahaan ini.
Meskipun Worldcoin menyatakan data tidak dibagikan dan proses verifikasi bersifat anonim, sejumlah negara telah mulai mengkaji legalitas dan etika dari praktik ini.(*)
Editor: Brp





