75 Ribu Angkatan Kerja di Kepri Menganggur

pengangguran kepri
Pelaksaan Job Fair di kawasan Kabupaten Bintan pada 205 lalu. Foto: Diskominfo Bintan

Medianesia, Tanjungpinang – Tingkat pengangguran di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih tergolong tinggi meski menunjukkan tren penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan data terbaru, jumlah pengangguran di Kepri mencapai sekitar 75.000 orang atau 6,4 persen dari total angkatan kerja. Angka ini turun dari sebelumnya 6,8 persen.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kepri, Diky Wijaya, mengungkapkan mayoritas pengangguran tersebut terkonsentrasi di Kota Batam.

Baca juga: BPR Bintan Borong Tiga Penghargaan TOP BUMD Awards 2026

“Pengangguran Kepri didominasi di Batam. Saat ini 6,4 persen atau sekitar 75.000 orang. Memang ada penurunan dari sebelumnya 6,8 persen,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sekitar 75 persen dari total pengangguran di Kepri berada di Batam, sementara sisanya tersebar di enam kabupaten/kota lainnya.

Menurut Diky, tingginya angka pengangguran di Batam dipengaruhi oleh posisinya sebagai daerah industri strategis yang terus menarik pencari kerja dari berbagai daerah, termasuk luar Kepri.

Baca juga: Li Claudia Tinjau Zona Selamat Sekolah di Batam, Proyek Diminta Dipercepat

Selain itu, rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja lokal juga menjadi faktor utama. Hal ini disebabkan belum meratanya kompetensi tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Kesempatan kerja sebenarnya ada, tetapi banyak pencari kerja yang belum memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran investor dalam menekan angka pengangguran, terutama dengan membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Baca juga: Balap Liar di Dompak Dibubarkan, 64 Remaja dan Puluhan Motor Diamankan Polisi

“Investor yang masuk diharapkan tidak hanya berinvestasi, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi tenaga kerja lokal,” tambahnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disnakertrans Kepri terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan berbasis kompetensi.

Diky menegaskan, pasar kerja saat ini tidak lagi hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga keterampilan dan sertifikasi.

Baca juga: Akademisi Malaysia Kagumi Manuskrip Pulau Penyengat, Buka Peluang Kolaborasi Budaya

“Sekarang bukan hanya soal ijazah, tapi kompetensi. Itu yang dibutuhkan dunia kerja,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Disnaker Batam akan menyiapkan sekitar 50 program pelatihan kompetensi bagi pencari kerja guna meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia industri.

“Setelah pelatihan dan sertifikasi, rata-rata mereka lebih mudah terserap ke dunia kerja,” pungkasnya.(Mhd)

Editor: Brp

Pos terkait