Deretan Aplikasi Populer yang Ternyata Dikembangkan Eks Intelijen Israel

Deretan Aplikasi Populer yang Ternyata Dikembangkan Eks Intelijen Israel
Ilustrasi bendera Israel. Sejumlah aplikasi populer di Android dan iOS ternyata dikembangkan oleh mantan personel militer dan intelijen Israel, khususnya dari Unit 8200, unit siber dan intelijen militer elit milik Israel. Foto: Pexels.

Medianesia.id, Batam – Sejumlah aplikasi populer di Android dan iOS ternyata dikembangkan oleh mantan personel militer dan intelijen Israel, khususnya dari Unit 8200, unit siber dan intelijen militer elit milik Israel.

Fakta ini terungkap dalam laporan investigatif yang dirilis oleh The Grayzone, dan menyebut bagaimana teknologi digital menjadi bagian dari ekosistem ekonomi Israel yang turut menopang konflik dan agresi militernya.

Beberapa aplikasi pengedit foto dan video yang terlihat biasa-biasa saja ternyata dikembangkan oleh perusahaan yang dimotori eks intel Israel.

Salah satunya adalah ZipoApps (juga dikenal sebagai Rounds.com), yang menaungi aplikasi seperti Collage Maker Photo Editor dan InstaSquare Photo Editor: Neon, masing-masing telah diunduh lebih dari 50 juta kali.

CEO-nya, Gal Avidor, secara terbuka mengaku bahwa semua pendiri Zipo adalah eks personel Unit 8200.

Aplikasi lain, seperti Bazaart dan Facetune (buatan Lightricks), juga punya akar serupa. Bazaart didirikan oleh Dror Yaffe dan Stas Goferman, keduanya mantan perwira IDF.

Facetune, yang sudah digunakan lebih dari 50 juta kali, dikembangkan oleh Yaron Inger—eks Unit 8200. Beberapa pengguna menyebut aplikasi ini terlalu mengakses data sensitif pengguna seperti lokasi dan pengenal perangkat.

Di ranah gim mobile, perusahaan Supersonic dari Israel bagian dari Unity menjadi salah satu penerbit besar global dengan beberapa gim yang menduduki tangga teratas, seperti Build a Queen, Going Balls, dan Bridge Race.

Supersonic didirikan oleh Nadav Ashkenazy, eks kepala operasi di Angkatan Udara Israel.

Ada pula Playtika, perusahaan pengembang gim berbasis judi yang tercatat di NASDAQ. Didirikan oleh Uri Shahak, putra mantan Kepala Staf IDF, Playtika memiliki 14% karyawan yang tercatat sebagai tentara cadangan dan terlibat dalam operasi militer di Gaza.

CEO-nya, Robert Antokol, secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap negara dan militernya.

Perusahaan Crazy Labs, dengan aplikasi seperti Phone Case DIY dan Sculpt People, juga masuk dalam daftar.

Perusahaan ini didirikan oleh Sagi Schliesser dan eks personel IDF lainnya. Crazy Labs memiliki valuasi mencapai USD 1 miliar.

Beberapa aplikasi utilitas populer juga dikembangkan oleh eks militer Israel. Misalnya:

Moovit – aplikasi transportasi urban yang bekerja sama dengan event internasional seperti Olimpiade dan Euro. Pendiri utamanya, Nir Erez, berasal dari unit Mamram IDF.

CallApp – aplikasi pemfilter panggilan spam yang telah memiliki 100 juta pengguna. CEO-nya, Amit On, merupakan mantan anggota Unit 8200.

Gett – aplikasi pemesan taksi hitam yang populer di Eropa, didirikan oleh eks Unit 8200, Roi More dan Shahar Waiser.

Waze – aplikasi navigasi yang sekarang dimiliki oleh Google, juga dibuat oleh mantan intelijen Israel.

Aplikasi gaya hidup seperti Fooducate, yang pernah tampil di berbagai media internasional, juga dibuat oleh mantan anggota militer.

Pendiri aplikasi ini, Hemi Weingarten, tercatat sebagai mantan pilot pengebom di Angkatan Udara Israel.

Informasi ini menyoroti keterkaitan antara ekosistem startup teknologi Israel dan latar belakang militer para pendirinya.

Bagi sebagian pengguna, fakta ini menimbulkan pertanyaan soal transparansi, privasi, dan kontribusi tidak langsung terhadap pendanaan konflik bersenjata dan pelanggaran HAM.

Sejumlah organisasi mendorong agar pengguna mulai lebih selektif terhadap aplikasi yang mereka unduh dan gunakan, serta mempertimbangkan prinsip etis dalam konsumsi digital, terutama yang berkaitan dengan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) terhadap entitas yang terlibat dalam pelanggaran HAM di Palestina.(*)

Editor: Brp

Pos terkait