Donald Trump Tunda Serangan ke Iran Usai Ancaman Balasan Garda Revolusi

Donald Trump Tunda Serangan ke Iran Usai Ancaman Balasan Garda Revolusi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan menunda rencana serangan terhadap fasilitas listrik di Iran selama beberapa hari. Foto: X/WhiteHouse.

Medianesia, Batam – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan menunda rencana serangan terhadap fasilitas listrik di Iran selama beberapa hari.

Keputusan ini diambil setelah adanya ancaman balasan dari Garda Revolusi Iran yang menyebut akan menyerang infrastruktur energi di kawasan Teluk jika serangan dilakukan.

Trump menyebut pemerintahannya telah melakukan pembicaraan intensif dengan Iran dalam dua hari terakhir.

Ia menilai diskusi tersebut berjalan konstruktif dan berpotensi membuka jalan penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah.

Sebagai tindak lanjut, Trump menginstruksikan penundaan seluruh rencana serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama sekitar lima hari, dengan mempertimbangkan perkembangan negosiasi yang sedang berlangsung.

Sebelumnya, Iran mengeluarkan ultimatum yang berisi ancaman terhadap fasilitas listrik di kawasan Timur Tengah yang terhubung dengan kepentingan militer Amerika Serikat.

Ancaman ini muncul sebagai respons atas rencana AS menyerang fasilitas energi Iran, terutama jika akses di Selat Hormuz tetap terganggu.

Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah, Garda Revolusi Iran menyebut akan menargetkan infrastruktur energi milik Israel serta fasilitas di negara-negara kawasan yang dianggap mendukung operasi militer AS.

Ketegangan ini meningkat setelah AS sebelumnya memperingatkan akan melakukan serangan dalam waktu 48 jam jika jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak kembali normal. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global.

Situasi semakin kompleks setelah sejumlah media di Iran mempublikasikan daftar fasilitas energi di kawasan Teluk yang berpotensi menjadi target, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab.

Ancaman terhadap infrastruktur energi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan listrik dan air di negara-negara Teluk.

Banyak negara di kawasan tersebut mengandalkan fasilitas desalinasi yang terintegrasi dengan pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Selain itu, eskalasi konflik juga berdampak pada pasar energi global. Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah mendorong kenaikan harga gas alam dan bahan bakar, serta meningkatkan risiko gangguan distribusi energi internasional.

Penundaan serangan oleh AS menunjukkan adanya upaya membuka ruang diplomasi, meskipun situasi di kawasan masih dinamis dan berpotensi berubah seiring perkembangan negosiasi antara kedua pihak.(*)

Editor: Brp

Pos terkait