Bukan Sekadar Gimmick, Uber Mulai Operasikan Robotaxi, Profesi Driver Online Terancam

Bukan Sekadar Gimmick, Uber Mulai Operasikan Robotaxi, Profesi Driver Online Terancam
Ilustrasi. Pertumbuhan industri kendaraan, khususnya taksi tanpa pengemudi atau robotaxi, semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Foto: Pixabay.

Medianesia.id, Batam – Pertumbuhan industri kendaraan, khususnya taksi tanpa pengemudi atau robotaxi, semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Perusahaan teknologi dari Amerika Serikat dan China berlomba mengembangkan layanan transportasi tanpa pengemudi, meski masih menghadapi tantangan terkait keamanan dan regulasi.

Salah satu pemain yang aktif beradaptasi adalah Uber, perusahaan transportasi online asal Amerika Serikat.

Setelah sempat menghentikan pengembangan kendaraan otonom pada 2020, Uber kini kembali ke sektor ini dengan pendekatan baru: menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi.

Beberapa mitra yang telah bergabung dalam ekosistem robotaxi Uber meliputi Waymo (anak usaha Alphabet/Google), Lucid Motors, Baidu, Pony.ai, WeRide, dan Momenta (berbasis di Tiongkok).

Kolaborasi ini bertujuan memperluas layanan robotaxi, tidak hanya di wilayah Amerika Serikat, tetapi juga secara global.

Setelah sebelumnya meluncurkan layanan robotaxi di Austin, Texas, Uber mengumumkan perluasan layanan ke Atlanta.

Dalam operasionalnya, Uber memanfaatkan kendaraan listrik Jaguar I-PACE yang dikemudikan sepenuhnya oleh sistem otonom milik Waymo.

Saat ini, terdapat sekitar 100 unit kendaraan Waymo yang sudah beroperasi di platform Uber di Austin.

Puluhan kendaraan tambahan akan mulai beroperasi di Atlanta dalam waktu dekat.

Uber sebelumnya sempat menghentikan pengembangan teknologi kendaraan otonom setelah insiden kecelakaan fatal yang melibatkan pejalan kaki pada 2018.

Peristiwa ini mendorong Uber menjual divisi otonomnya ke Aurora Innovation pada 2020.

Namun, melalui pendekatan kemitraan, Uber kembali ke industri robotaxi tanpa harus mengelola teknologi tersebut secara langsung.

Perkembangan robotaxi menimbulkan tantangan baru bagi pengemudi transportasi online.

Otomatisasi kendaraan berpotensi mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia, terutama di kota-kota besar yang menjadi sasaran awal uji coba layanan ini.

Meskipun belum tersedia secara luas, tren ini menunjukkan arah masa depan transportasi yang makin bergantung pada teknologi otonom.

Uber pernah beroperasi di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, namun memutuskan keluar dari pasar pada 2018.

Seluruh operasionalnya di kawasan ini dijual ke Grab, perusahaan transportasi asal Singapura.

Meski begitu, di tingkat global, Uber terus memperluas jangkauan layanan, termasuk melalui teknologi transportasi terbaru seperti robotaxi.(*)

Editor: Brp

Pos terkait