Medianesia, Tanjungpinang – Sebagian besar wilayah Kepulauan Riau (Kepri) diperkirakan akan memasuki puncak musim kemarau pada periode Mei hingga Juli 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Bandara Raja Haji Fisabilillah, Ahmad Kosasih, menyebutkan sekitar 57 persen wilayah Kepri diprediksi mengalami kondisi musim yang lebih kering dari normal.
“Secara umum, sifat musim di Kepri cenderung lebih kering dari normal dan durasi kemarau diperkirakan lebih panjang,” ujarnya.
Baca juga: Waduk Gesek Mengering, Distribusi Air Bersih di Tanjungpinang Terganggu
Untuk wilayah Pulau Bintan, curah hujan pada Maret 2026 tercatat relatif rendah, yakni hanya berkisar 50 hingga 100 milimeter.
Kondisi ini dipengaruhi oleh lemahnya fenomena global seperti El Niño–Southern Oscillation dan Indian Ocean Dipole, yang biasanya berperan dalam pembentukan pola curah hujan di wilayah Indonesia.
Akibatnya, distribusi hujan menjadi tidak merata dan cenderung lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.
Baca juga: Waspada Kabel Semrawut di Kijang Lama Tanjungpinang Membahayakan Pengendara
Dengan kondisi cuaca yang lebih kering, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Risiko tersebut dapat meningkat akibat kombinasi curah hujan yang rendah dan tiupan angin yang cukup kencang, terutama di wilayah rawan.
Baca juga: Arus Mudik Lebaran di Bandara RHF Tanjungpinang Tembus 8.236 Penumpang
“Waspadai potensi meluasnya kebakaran lahan, apalagi jika dipicu oleh aktivitas masyarakat,” tegasnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tetap memperhatikan kondisi cuaca, guna mencegah terjadinya kebakaran yang dapat berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan.(Mhd)
Editor: Brp





