Rinciannya, 11,6 persen yang sangat tidak setuju rekonsiliasi dan 48,8 persen responden tidak setuju rekonsiliasi tersebut.
Sementara yang menjawab setuju rekonsiliasi PDIP dan Gerindra sebanyak 17,2 persen responden dan 8,1 persen yang sangat setuju. Sisanya, responden tidak menjawab.
“Lalu alasan Gen Z dan milenial menginginkan PDIP oposisi, mayoritas atau 66,2 persen menginginkan agar PDIP mengambil peran sebagai oposisi politik di parlemen atau kekuatan penyeimbang,” jelasnya.
Sedangkan yang setuju PDIP atau Gerindra rekonsiliasi atau berkoalisi, mayoritas atau 44,3 persen beralasan untuk mengurangi instabilitas politik di parlemen, yang berdampak terhadap kondusivitas jalannya pemerintahan di masa 2024-2029.
Lalu, 21,2 persen responden yang menjawab bahwa PDIP dan Gerindra sama-sama partai besar yang berpengaruh.
PDIP dan Gerindra merupakan dua partai nasionalis besar dengan basis loyalis yang kuat termasuk memiliki tokoh sentral yang kuat.
“Kedua partai ini bisa berkontribusi terhadap bangsa, entah berkoalisi maupun salah satunya menjadi oposisi yang konstruktif untuk pembangunan bangsa,” jelasnya.





