Kasus DBD di Tanjungpinang Melonjak Tajam

kasus DBD tanjungpinang
Ilustrasi fogging. Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tanjungpinang melonjak tajam sepanjang tahun 2025. Foto: Diskominfo Tanjungpinang

Medianesia.id, Tanjungpinang – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tanjungpinang melonjak tajam sepanjang tahun 2025.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanjungpinang mencatat total 478 kasus terjadi di ibu kota Provinsi Kepulauan Riau tersebut.

Dari 18 kelurahan yang ada, Kelurahan Batu 9 dan Pinang Kencana menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Batu 9 mencatat 127 kasus, disusul Pinang Kencana sebanyak 113 kasus.

Sementara itu, Kelurahan Tanjung Ayun Sakti tercatat 34 kasus, Melayu Kota Piring 40 kasus, Sungai Jang dan Air Raja masing-masing 28 kasus.

Baca juga: Banjir Rob Rendam Objek Wisata di Tanjungpinang, Warga Manfaatkan Jadi Tempat Bermain

Adapun kelurahan lainnya mencatat angka bervariasi, mulai dari nol hingga belasan kasus.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, lonjakan kasus DBD di Tanjungpinang tergolong signifikan.

Pada tahun 2024, total kasus DBD tercatat 277 kasus, dengan sebaran tertinggi juga berada di Batu 9 dan Pinang Kencana, masing-masing 46 kasus dan 64 kasus.

“Data kami menunjukkan bahwa kasus DBD tahun 2025 meningkat cukup tajam dibandingkan 2024. Bahkan, di awal tahun 2026 ini saja sudah tercatat 14 kasus,” ujar Kepala Dinkes Tanjungpinang, Rustam, Kamis, 8 Januari 2026.

Baca juga: Arus Penumpang Nataru di Pelabuhan SBP Tanjungpinang Tembus 145 Ribu Orang

Berdasarkan kelompok usia, penderita DBD paling banyak berasal dari usia 15 tahun ke atas, yakni sekitar 48 persen dari total kasus.

Disusul kelompok usia 10–14 tahun sebanyak 24 persen, usia 5–9 tahun sekitar 19 persen, usia 1–4 tahun 7 persen, serta usia di bawah satu tahun sekitar 3 persen.

“Dalam enam bulan terakhir tahun 2025, rata-rata terdapat 40 hingga 50 kasus per bulan, terutama saat musim hujan, dengan puncak kasus terjadi pada akhir tahun,” tambahnya.

Baca juga: Dinkes Tanjungpinang Pastikan Nihil Kasus Super Flu

Rustam mengakui, penanganan DBD masih menghadapi sejumlah kendala, terutama rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara mandiri dan berkelanjutan.

Untuk menekan angka kasus, Dinkes Tanjungpinang terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar menjalankan program 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

“Kami juga rutin melakukan fogging di lingkungan terdampak sebagai upaya memutus rantai penularan nyamuk Aedes aegypti,” pungkasnya.(Mhd)

Editor: Brp

Pos terkait