Dolar AS Menguat, Rupiah Diperkirakan Sentuh Level 17.050

Dolar AS Menguat, Rupiah Diperkirakan Sentuh Level 17.050
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan melanjutkan tren pelemahan pada awal perdagangan setelah libur Lebaran, Rabu (25/3/2026). Foto: Pexels.

Medianesia, Batam – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan melanjutkan tren pelemahan pada awal perdagangan setelah libur Lebaran, Rabu (25/3/2026). Rupiah diproyeksikan bergerak menuju level Rp17.050 per dolar AS.

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS. Ia memperkirakan pelemahan ini akan terlihat sejak pembukaan pasar.

Baca juga: Belanja Iklan Digital Kuasai Pasar, Media Konvensional Mulai Ditinggalkan

Penguatan dolar AS didorong oleh kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh sejumlah bank sentral di berbagai negara. Kebijakan ini membuat mata uang dolar tetap kuat di pasar global.

Selain itu, kenaikan harga energi turut menjadi faktor yang memperkuat dolar. Harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi acuan global diperkirakan berada pada kisaran US$113 hingga US$116 per barel.

Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Pemerintah Pastikan Anggaran MBG dan Kopdes Tidak Dipangkas

Kondisi tersebut berpotensi mendorong indeks dolar AS ke level sekitar 101, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Di sisi domestik, pemerintah dan Bank Indonesia telah melakukan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas rupiah.

Bank Indonesia, misalnya, aktif melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri.

Baca juga: 

Pemerintah juga berupaya menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen melalui efisiensi belanja negara. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Meski demikian, tekanan dari faktor eksternal dinilai masih dominan, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada biaya impor energi, termasuk bahan bakar minyak.(*)

Editor: Brp

Pos terkait