Sejarah PT Pelni dan Peran Strategis Menyatukan Kepulauan Nusantara

Sejarah PT Pelni dan Peran Strategis Menyatukan Kepulauan Nusantara
Berikut sejarah PT Pelni dan peran strategis perusahaan dalam menyatukan kepulauan nusantara. Foto: PT Pelni

Medianesia.id, Jakarta – PT Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia) adalah sebuah perusahaan transportasi laut milik negara yang resmi berdiri pada 28 April 1952.

Kehadiran PT Pelni tidak terlepas dari kebutuhan Indonesia yang baru merdeka untuk memiliki armada pelayaran nasional sendiri.

Tujuan dan peran PT Pelni antara lain sebagai sarana transportasi laut yang menghubungkan berbagai pulau di Nusantara.

Sebelum PT Pelni berdiri, banyak jalur pelayaran domestik masih dikuasai oleh perusahaan Belanda, khususnya Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM).

Pemerintah Indonesia kemudian melakukan nasionalisasi aset-aset KPM setelah pengakuan kedaulatan pada tahun 1949.

Setelah melakukan nasionalisasi tersebut, terbentuklah PT Pelni sebagai BUMN yang mendapatkan mandat mengelola transportasi laut nasional.

Perkembangan Armada dan Jaringan

Pada awal operasinya, PT Pelni hanya mengoperasikan dua kapal pinjaman hasil sitaan dari Belanda. Namun, seiring berjalannya waktu, armada kapal terus bertambah.

Penambahan armada melalui pembelian maupun hibah dari pemerintah Jerman Barat dan Jepang sebagai bentuk kerja sama internasional.

Sekitar tahun 1950 hingga 1960-an, perusahaan mulai mengoperasikan kapal-kapal penumpang berukuran besar yang sanggup menjangkau berbagai rute dari Sabang hingga Merauke.

Puncaknya, pada era 1980–1990-an, perusahaan ini menguasai hampir seluruh jalur pelayaran antarpulau dengan puluhan kapal penumpang berkapasitas ribuan orang.

Pada dekade 1980–1990-an, PT Pelni menjadi moda transportasi utama masyarakat Indonesia, terutama sebelum berkembangnya transportasi udara.

Kapal-kapal seperti KM Kerinci, KM Bukit Siguntang, KM Kelud, KM Lawit, KM Tidar, KM Umsini dan KM Dobonsolo, menjadi ikon transportasi laut nasional.

Kapal-kapal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga membawa peran penting dalam perekonomian.

Selain itu, mengangkut logistik, kebutuhan pokok, serta menjadi jalur distribusi utama di daerah terpencil di Indonesia yang sulit terjangkau.

Tantangan Besar di Era Milenuim

Memasuki tahun 2000-an, PT Pelni menghadapi tantangan besar seiring dengan pesatnya perkembangan industri penerbangan murah (low-cost carrier).

Hal ini membuat masyarakat beralih ke transportasi udara. Penurunan jumlah penumpang sempat membuat kondisi keuangan perusahaan tertekan.

Untuk bertahan, perusahaan melakukan diversifikasi usaha, termasuk pengembangan jasa logistik, pengangkutan barang, pariwisata bahari, serta kapal perintis yang melayani rute ke pulau terpencil.

Program kapal perintis ini dibiayai oleh pemerintah sebagai bagian dari kewajiban pelayanan publik (public service obligation/PSO).

Kini, PT Pelni tidak hanya terkenal sebagai operator kapal penumpang, tetapi juga sebagai tulang punggung Tol Laut Indonesia.

Tol Laut Indonesia ini merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan menekan disparitas harga barang antarwilayah.

Dengan lebih dari 20 kapal penumpang besar, 46 kapal perintis, serta kapal barang dan ternak, Pelni tetap menjadi perusahaan pelayaran terbesar di Indonesia.

Tidak hanya itu, perusahaan turut mendukung sektor pariwisata dengan menyediakan paket wisata bahari dan pelayaran ke destinasi populer seperti Raja Ampat, Labuan Bajo, dan Wakatobi.

Sejak berdiri pada tahun 1952, perusahaan pelayaran terbesar ini telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Dari masa kejayaan sebagai moda transportasi utama, hingga transformasi menghadapi era modern, Pelni tetap memegang peran strategis dalam menyatukan kepulauan Nusantara.

Dengan visi sebagai jembatan laut bangsa, PT Pelni akan terus menjadi penghubung ekonomi, sosial, dan budaya dari Sabang sampai Merauke. (*)

Editor: Brp

Pos terkait