Bauran bioetanol 20% akan diterapkan untuk transportasi yang mendapatkan subsidi atau public service obligation (PSO). Sementara itu, bauran bioetanol 10% hingga 20% akan diterapkan untuk transportasi non-PSO.
Saleh optimistis dengan potensi bioetanol di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya melimpah untuk pembuatan bioetanol.
“Kalau PSO dicampur Pertalite, kalau non-PSO [dicampur] Pertamax ke atas,” ujar Saleh.
Campuran etanol ke bensin hingga melampaui 20% dinilai Saleh akan berdampak baik. Namun, penerapannya harus disesuaikan dengan kesiapan sektor otomotif.(*/Brp)
Editor: Brp





