OASYS, Alat Deteksi Toksoplasmosis Okular Berbasis AI

Inovasi MahasiOASYS, Alat Deteksi Toksoplasmosis Okular Berbasis AI
Mahasiswa Universitas Brawijaya berinovasi menciptakan alat pendeteksi toksoplasmosis okular berbasis AI. Foto: Humas UB.

Medianesia, Batam – Toksoplasmosis okular adalah penyakit pada retina mata akibat infeksi parasit Toxoplasma gondii.

Infeksi ini dapat merusak jaringan retina secara permanen dan berisiko menyebabkan kebutaan.

Di Indonesia, penyebaran penyakit ini cukup tinggi.

Baca juga: Chrome Bakal Bisa Bantu Segala Hal, Google Perkenalkan Fitur AI Baru

Beberapa penelitian menunjukkan toksoplasmosis okular menjadi penyebab sekitar 63% dari seluruh kasus infeksi pada bagian dalam mata.

Tantangan dalam diagnosis adalah gejala yang sering tidak spesifik, sehingga banyak kasus terlambat terdeteksi dan berujung pada komplikasi serius.

Pemeriksaan retina mata saat ini masih mengandalkan ophthalmoscopy, khususnya metode indirect ophthalmoscopy yang dapat menampilkan area retina lebih luas.

Namun, keterbatasan alat canggih di fasilitas kesehatan tingkat pertama, terutama di daerah terpencil, menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan pemeriksaan yang akurat dengan ketersediaan teknologi.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Brawijaya mengembangkan OASYS, prototipe alat pendeteksi toksoplasmosis okular berbasis kecerdasan buatan (AI).

Baca juga: Albania Bikin Sejarah, Tunjuk AI Jadi Menteri untuk Berantas Korupsi

Tim pengembang terdiri dari Naufal Ramadhino Pribadi, Aryo Nabil Maulana, Ibnu Fikri, Anindita Satyakirana, dan Makhrifa Azizzilla Aqilananda Sutopo, dengan bimbingan Eka Maulana, S.T., M.T., M.Eng.

Inovasi ini berhasil meraih dukungan pendanaan dari Kemendikbudristek melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta 2025.

OASYS menggabungkan metode indirect ophthalmoscopy dengan teknologi computer vision.

Sistem ini memungkinkan analisis citra retina secara otomatis, cepat, dan konsisten.

Dengan dukungan teknik image enhancement, kualitas citra retina dapat ditingkatkan sehingga lesi akibat toksoplasmosis lebih mudah terdeteksi sejak dini.

Baca juga: Bukan Lagi Google, Ini Platform Baru yang Digandrungi Gen Z untuk Cari Info

Cara Kerja OASYS

Aryo Nabil menjelaskan, proses deteksi diawali dengan pengambilan citra retina menggunakan metode indirect ophthalmoscopy yang dipadukan dengan kamera Arducam 16MP dan lensa 20D.

“Metode ini dipilih karena mampu menangkap citra retina dengan medan pandang luas,” katanya.

Setelah citra diperoleh, sistem melakukan pengolahan citra (image enhancement) untuk meningkatkan kontras lokal tanpa menambah noise.

Selanjutnya, citra diklasifikasikan menggunakan model computer vision yang telah dilatih dengan dataset dari jurnal ilmiah dan data medis rumah sakit.

Hasil analisis kemudian menentukan apakah citra retina positif atau negatif terhadap toksoplasmosis okular.

“Dengan demikian, tenaga medis dapat melakukan skrining awal secara lebih akurat sebelum merujuk pasien ke dokter spesialis mata,” katanya.

Meski masih dalam tahap pengembangan, OASYS diharapkan dapat digunakan secara luas di fasilitas kesehatan, terutama di daerah dengan keterbatasan dokter spesialis mata.

Ketua tim, Naufal Ramadhino Pribadi, menyampaikan agar alat ini tidak hanya berhenti di ajang PKM, tetapi bisa terus dikembangkan hingga berfungsi penuh.

“Inovasi ini diharapkan membantu tenaga medis mendeteksi toksoplasmosis okular dengan cepat, akurat, dan efisien,” ujarnya.

OASYS menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa Universitas Brawijaya dalam bidang kesehatan mata, sekaligus wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Melalui adanya alat ini, diharapkan diagnosis toksoplasmosis okular dapat dilakukan lebih dini, sehingga risiko kebutaan dan penurunan kualitas hidup penderita dapat ditekan.(*)

Editor: Brp

Pos terkait