Medianesia, Tanjungpinang – Maskapai Garuda Indonesia dikabarkan akan menghentikan layanan penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF), Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Berdasarkan informasi yang beredar, penerbangan terakhir Garuda Indonesia dari Bandara RHF menuju Jakarta dijadwalkan pada 9 Februari 2026. Rute tersebut selanjutnya disebut akan dilayani oleh maskapai Citilink.
General Manager Bandara RHF Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan Wakan, membenarkan adanya informasi tersebut.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni KM Sabuk Nusantara 48 Tanggal 17-30 Januari 2026
Namun, ia menegaskan bahwa pemberitahuan yang diterima pihak bandara sejauh ini masih bersifat lisan.
“Informasinya baru disampaikan secara lisan, belum ada pemberitahuan tertulis,” kata Setiadi, Rabu (21/1/2026).
Ia menyebutkan, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti alasan Garuda Indonesia berencana menghentikan operasional penerbangan di Bandara RHF, mengingat belum adanya surat resmi dari pihak maskapai.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni KM Tilongkabila 15 Januari hingga 4 Februari 2026
Kabar tersebut turut mendapat perhatian dari anggota DPRD Kepulauan Riau daerah pemilihan Tanjungpinang, Rudy Chua.
Menurutnya, rencana penghentian layanan Garuda Indonesia dapat berdampak pada persepsi investor terhadap Kota Tanjungpinang.
Rudy menilai, selama ini daerah yang dilayani maskapai Garuda Indonesia kerap diasosiasikan dengan wilayah yang memiliki aktivitas ekonomi cukup baik.
Oleh karena itu, berhentinya layanan Garuda di Bandara RHF dikhawatirkan dapat memengaruhi pandangan investor.
“Ini berkaitan dengan citra Garuda Indonesia sebagai maskapai nasional yang selama ini juga dikaitkan dengan status suatu daerah,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa wacana penghentian penerbangan tersebut diduga berkaitan dengan rendahnya jumlah penumpang.
Selama ini, pengguna jasa Garuda Indonesia di Tanjungpinang didominasi aparatur sipil negara dan pelaku usaha.
Selain itu, kebijakan pemangkasan anggaran perjalanan dinas dinilai turut berdampak pada penurunan jumlah penumpang maskapai tersebut.
“Dengan adanya pengurangan anggaran perjalanan dinas, otomatis jumlah penerbangan menggunakan Garuda juga berkurang,” katanya.
Rudy menambahkan, Gubernur Kepulauan Riau telah mengirimkan surat kepada Direktur Utama Garuda Indonesia untuk meminta agar rencana tersebut ditinjau kembali.
Namun hingga kini, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau belum menerima tanggapan resmi dari pihak maskapai.
“Kita masih menunggu respons dari Maskapai Garuda Indonesia,” pungkasnya.(Mhd)
Editor: Brp





