6. Mencampur keuangan pribadi dan bisnis
Memulai bisnis memang membutuhkan banyak dana. Untuk usaha kecil-kecilan, mungkin masih banyak yang menggunakan uang pribadi sebagai modal usaha, lalu mencampur keuntungan yang diterima ke rekening pribadi. Ketika bisnismu semakin besar, kamu gak bisa melakukan hal ini lagi. Kamu harus memisahkan keuangan untuk kebutuhan pribadi dan bisnis. Karena dengan begitu, kamu bisa memantau perkembangan bisnismu serta mengukur keuntungan yang kamu raih sepanjang waktu.
7. Tidak memiliki dana darurat untuk bisnismu
Dana darurat wajib kamu miliki gak hanya dalam hal keuangan pribadi, tapi juga untuk keperluan bisnismu. Usaha yang kamu bangun gak melibatkan kamu dan partner bisnismu saja, tapi juga para karyawan yang bekerja untukmu. Apabila produktivitas terganggu dan mempengaruhi pendapatan usahamu, maka penghasilan mereka yang mencari nafkah dengan bekerja untukmu juga akan terganggu. Gak hanya untuk gaji pegawai, dana darurat dibutuhkan untuk apa pun yang berhubungan dengan mempertahankan kelangsungan bisnismu. Karena itu, saat memulai bisnis, jangan lupa menyiapkan dana darurat untuk bisnismu juga ya.
8. Mengabaikan kepuasan pelanggan
Kesuksesan bisnis yang kamu bangun gak berhenti sampai di pelanggan membeli produk atau memakai jasa yang kamu tawarkan saja, tapi juga mempertahankan agar mereka datang kembali dan menjadi pelanggan setia. Ini karena word-of-mouth masih terbilang penting. Pelanggan yang puas akan dengan senang hati membagikan pengalaman mereka ke keluarga dan teman-teman mereka. Walaupun sulit untuk mengontrol hal ini, word-of-mouth bisa sangat efektif membantu mendorong usahamu… atau sebaliknya. Tergantung bagaimana kamu memperlakukan mereka. Karena itu, jangan pernah mengabaikan hal ini ya.
9. Hanya berfokus pada kehadiran fisik atau online
Meski kita telah memasuki era digital dengan kemudahan akses internet dari smartphone, gak bisa dipungkiri kehadiran secara fisik masih dibutuhkan. Selain memiliki website atau online presence di media sosial misalnya, gak ada salahnya bergabung dalam kegiatan offline seperti pop-up market yang bisa membangun kepercayaan konsumen dengan melihat kualitas produk milikmu secara langsung, serta membuka peluang pada pasar yang lebih luas lagi.
Begitu pula sebaliknya, kalau kamu sudah memiliki kehadiran secara fisik, misalnya dalam bentuk toko, restoran, dan lainnya, pastikan kamu juga memiliki online presence seperti website, akun media sosial, atau tergabung dalam situs travel yang menampilkan review dan informasi soal bisnismu. Ini memberi kesempatan bagi banyak orang untuk mengenal bisnismu sebelum datang secara langsung. Baik online atau offline, kamu membutuhkan dua hal ini dalam porsi yang tepat. (jenius)





