Xi Jinping ‘Skip’ Indonesia dalam Tur Asia Tenggara, Ada Apa?

Xi Jinping 'Skip' Indonesia dalam Tur Asia Tenggara, Ada Apa?
Presiden China Xi Jinping memulai tur luar negeri perdana pada 2025 dengan mengunjungi tiga negara Asia Tenggara: Vietnam, Kamboja, dan Malaysia. Foto: X/anwaribrahim.

Medianesia.id, Batam – Presiden China Xi Jinping memulai tur luar negeri perdana pada 2025 dengan mengunjungi tiga negara Asia Tenggara: Vietnam, Kamboja, dan Malaysia.

Namun, dalam kunjungan ini, Indonesia tidak masuk dalam daftar negara yang disambangi, meski merupakan mitra dagang utama Negeri Tirai Bambu di kawasan.

Kunjungan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global yang dipicu oleh perang dagang Amerika Serikat, terutama setelah Presiden AS Donald Trump kembali menerapkan kebijakan tarif tinggi terhadap sejumlah negara.

Menurut data, Vietnam merupakan pengimpor terbesar produk China di Asia Tenggara dengan nilai US$161,9 miliar, disusul Malaysia sebesar US$101 miliar.

Sementara Kamboja menjadi tujuan utama investasi infrastruktur China di kawasan.

Peneliti keamanan Indo-Pasifik dari CSIS Indonesia, Waffaa Kharisma, menilai kunjungan Xi merupakan langkah strategis untuk memperkuat koalisi ekonomi regional.

“Tujuan utamanya adalah menjaga komitmen pada prinsip pasar terbuka dan mencegah efek domino dari gelombang proteksionisme yang dipicu kebijakan AS,” jelas Waffaa.

Ia juga menyoroti upaya Vietnam yang tengah menjalin negosiasi dengan AS. China diyakini ingin memastikan agar kesepakatan tersebut tidak mengorbankan kedekatan ekonomi antara kedua negara.

Presiden Trump sebelumnya menjatuhkan tarif tinggi terhadap sejumlah negara Asia Tenggara: Vietnam (46 persen), Kamboja (49 persen), dan Malaysia (46 persen), di luar tarif global sebesar 10 persen.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Sya’roni Rofii, menambahkan bahwa kunjungan Xi juga bersifat simbolis untuk menunjukkan pengaruh China yang tetap kuat di kawasan.

“China ingin menunjukkan bahwa mereka masih memiliki pengaruh strategis, terutama di tengah kebijakan agresif Trump,” ujarnya.

China saat ini menjadi satu-satunya kekuatan Asia yang secara langsung membalas kebijakan tarif tinggi AS. Setelah dikenai tarif 34 persen oleh Trump, Beijing membalas dengan tarif serupa terhadap seluruh produk asal Amerika.

Meski Indonesia adalah mitra dagang penting, tidak masuknya Indonesia dalam daftar kunjungan dinilai sebagai langkah taktis.

Besar kemungkinan, Beijing tengah fokus mengonsolidasikan dukungan dari negara-negara yang lebih terpengaruh oleh kebijakan tarif AS.(*)

Editor: Brp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *