Warga Batam ‘Padati’ Pegelaran Kesenian dan Budaya Kamardhikan Punggowo

Pagelaran Kesenian dan Budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-77 Republik Indonesia, digelar secara massal oleh Paguyuban Among Warga Jowo bertajuk Syukuran Kamardhikan Punggowo di Padepokan Punggowo, Nongsa selama dua hari berturut-tururt terhitung Sabtu dan Minggu (20-21/8/2022).

Medianesia.id, Batam – Pagelaran Kesenian dan Budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-77 Republik Indonesia, digelar secara massal oleh Paguyuban Among Warga Jowo bertajuk Syukuran Kamardhikan Punggowo di Padepokan Punggowo, Nongsa selama dua hari berturut-tururt terhitung Sabtu dan Minggu (20-21/8/2022).

Tercatat belasan Forum Komunitas (Forkom) asal Jawa yang ada di Provinsi Kepri ‘tumplek blek’ di Padepokan tersebut. Di antaranya Forkom Jawa Timur, Forkom Jawa Tengah, Forkom Jowo Manunggal, Forkom Yogyakarta (ISKY) hingga Forkom Pujakusuma.

Gelaran Kesenian dan Budaya asal Jawa ini, secara langsung membuktikan bahwa lintas generasi siap mewarisi seni budaya adiluhung warisan nenek moyang.

Mengingat, kegiatan ini menampilkan kepiawaian generasi muda dan sesepuh dalam meracik kolaborasi seni budaya tradisional dengan tampilan lebih modern.

Ketua panitia pelaksana yang juga Ki Carik Punggowo Sulistyana mengaku sangat berbahagia atas terlaksananya Syukuran Amardhikan Punggowo ini. Mengingat, sudah cukup lama kegiatan seperti ini tidak bisa digelar oleh adanya dampak pandemi.

“Untuk itu, kegiatan ini menjadi sebuah wadah untuk bisa kembali bersilahturahmi sueleuh paguyuban. Mengingat, Paguyuban Among Warga Jowo ini menaungi lebih dari 134 paguyuban,” jelas Sulistyana.

Pihaknya pun mengatakan, perhelatan ini juga menjadi sebuah momentum dalam menularkan pengetahuan budaya tradisional kepada generasi muda, sehingga tidak perlu khawatir akan punahnya budaya asli Indonesia.

Mengingat, selain kesenian tradisional yang terdiri dari bantengan singo, menunggaling maruwekso, campur sari, reog ponorogo, jaranan, angklung hingga karawitan turut meramaikan kegiatan tersebut.

“Selain itu, ada juga 97 stan kuliner yang menyajikan makanan khas daerah masing-masing. Sehingga sedikit banyak menghilangkan rasa kangen masyarakat Batam dan Kepri akan kampung halaman. Khususnya para perantauan,” tegasnya.

Sementara itu, Ki Lurah Paguyuban Among Wargo Jowo (Punggowo sekaligus Tokoh masyarakat Kepri, Dr. H. M. Soerya Respationo, S.H., M.H. dalam sambutannya mengajak seluruh warga jawa di perantauan Batam untuk tidak melupakan beberapa prinsip utama.

Pertama, dalam perantauan harus mengedepankan filosifi ‘dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’.

“Artinya, dalam perantauan kita warga jawa di Batam harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan peradaban setempat dan suku-suku lainnya,” terang Soerya.

Kedua, tambahnya, dimana pun berada jangan pernah sekali-sekali melupakan adat istiadat, tradisi dan budaya leluhur.

Oleh karena itu, dua prinsip ini mengajarkan kepada kita semua untuk memegang arti Jowo (Jogo Wibowo) atau Jawa (Jawa Wibawa).

“Siapa pun kita (orang jawa), dan apapun kelasnya dan profesi. Harus menjaga kewibaan. Dan untuk menjaga kewibaan, harus memegang penuh nasehat leluhur yang berisikan Sugih Tanpo Bondho, Digdoyo Tanpo Aji, Ngluruk Tanpo Bolo dan Menang Tanpo Ngasorake,” tambahnya.

Sugih Tanpo Bondho adalah, tambahnya lagi, kekayaan tidak hanya berupa materi saja. Akan tetapi jiwa yang bijak dan mengayomi.

Sementara Ngluruk Tanpo Bolo adalah harus menjadi orang yang berani bertanggung jawab, berani untuk beraksi walaupun terkadang tinggal kita sendiri.

“Sikap ini adalah mencontoh sikap kesatria, yang mana bukanlah orang yang mudah untuk terhasut, ikut-ikutan, tetapi lebih cenderung kepada orang yang berani maju, berani meghadapi masalah, berani untuk bertanggung jawab, walaupun yang lainnya mundur / lari dari masalah tersebut,” tambahnya.

Serta, Menang Tanpo Ngasorake. Yang artinya pencapaian yang kita harapkan, kemenangan yang kita inginkan, haruslah tanpa merendahkan orang lain.

“Jogo Wibowo yang lain adalah, Manunggaling Lathi Lan Pakarti. Yakni Harus menunggal antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita perbuat. Harus Satunya Kata dan Perbuatan,” tegasnya.

Untuk itu, Soerya mengajak semua pihak untuk bisa sama-sama mengayomi dan menjalankan filosofi jawa tersebut. Dan tidak pernah lupa untuk menjaga kesatuan dan persatuan antara keragaman suku di Batam.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Yang mengajak semua pihak memupuk sinergisitas di tengah keragaman.

“Batam sangat multikultural, bahkan 32 persen warga Batam berasal Pulau Jawa,” ujar Amsakar di hadapan paguyuban masayarat Batam asal Pulau Jawa tersebut.

Di kesempatan itu, ia mengajak semua pihak memaknai diri masing-masing, dan terus berkontribusi dalam membangun Kota Batam.

“Sejauh ini, warga Punggowo sangat berkontribusi signifikan. Dengan keberagaman ini, kita makin cepat maju,” ujarnya.

Ia berharap, paguyuban terus menangani kegiatan sosial di Batam meski meski di tingkat internal masing-masing. Kegiatan tersebut sangat membantu pemerintah dalam menangani persoalan di tengah masyarakat.

“Jaga kekompakan, sejauh ini, Batam aman nyaman dengan satu sama lain sangat peduli. Mari bersatu membangun Batam,” katanya. (ilm )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *