Medianesia.id, Tanjungpinang – Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, menegaskan penguatan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat merupakan kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kepri yang saat ini berada di posisi ketiga tertinggi secara nasional, setelah Kalimantan dan Maluku.
Pernyataan itu ia sampaikan saat membuka Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Kepri Tahun 2025, yang digelar di salah satu hotel kawasan Tanjungpinang, belum lama ini.
Nyanyang menyampaikan, optimismenya Kepri mampu kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional, terutama dalam kerja sama internasional.
“Kita berharap Provinsi Kepulauan Riau dapat kembali seperti dulu, aktif menjalin kerja sama dengan Singapura, Asia Timur, Eropa, dan Timur Tengah, serta menjadi garda depan dalam kegiatan ekonomi dan investasi nasional,” tegasnya.
Ia melanjutkan, sektor industri menjadi penopang utama perekonomian Kepri. Di Kota Batam, terdapat 32 kawasan industri aktif, tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan satu kawasan baru yang sedang dipersiapkan.
Dengan kekuatan tersebut, Nyanyang menargetkan pertumbuhan ekonomi Kepri bisa menembus 12 persen, melampaui target nasional yang berada pada kisaran 5–6 persen.
Baca juga: Gubernur Ansar Tetapkan Kepri sebagai Provinsi Bershalawat
Namun, ia juga menyoroti potensi daerah lain yang tengah bertumbuh, seperti, Bintan, dengan industri PT BAI yang berkembang pesat. Lalu, kawasan Tanjung Balai Karimun, melalui sektor minyak lepas pantai.
Sementara itu, Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi dinilai masih perlu dorongan besar karena pertumbuhan ekonominya baru mencapai 2,9 persen.

“Kami berharap akan ada lebih banyak stimulus dan investasi masuk ke Tanjungpinang. Di Dompak tersedia lahan sekitar 700 hektare, dan di Senggarang sekitar 1.200 hektare yang bisa dikembangkan menjadi kawasan industri baru,” jelasnya.
Selain itu, Wagub Nyanyang juga mengingatkan pentingnya memaksimalkan potensi Kepri sebagai provinsi yang berada di jalur perdagangan global, yakni Selat Malaka dan Selat Philip, jalur laut tersibuk keempat di dunia dengan lebih dari 90.000 kapal per tahun.
Sayangnya, Kepri baru menikmati sekitar 5 persen dari potensi ekonomi jalur tersebut. Sebagai perbandingan, Singapura mencapai 35–40 juta TEUs per tahun, Pelabuhan Tanjung Pelepas Malaysia mencapai 15 juta TEUs.
Sementara Batam baru tercatat 650 ribu TEUs. Oleh karena itu, Pemprov Kepri menargetkan peningkatan volume kargo hingga 1 juta TEUs pada 2027.
Baca juga: Pemprov Kepri Perpanjang Program Pemutihan Pajak
Selanjutnya, Wagub mengungkapkan angka pengangguran terbuka Kepri turun menjadi 6,60 persen pada tahun ini. Penurunan itu disebutnya hasil kolaborasi erat pemerintah, KADIN, dan para pelaku usaha.
“Capaian ini menandakan ekonomi Kepri semakin stabil dan terkendali. Kami akan terus memberikan stimulus nonfiskal dengan mempercepat proses perizinan investasi agar lebih mudah dan efisien,” katanya.
Lebih jauh, Nyanyang mendorong kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, asosiasi, dan media untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Menurutnya, pemulihan ekonomi Kepri tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi memerlukan dukungan seluruh elemen untuk mengakselerasi investasi dan memperkuat daya saing daerah.(ADV)
Editor: Brp





