Varian Omicron BA.2 Menular dengan Cepat dan Sulit Terdeteksi

Medianesia.id, Jakarta – Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan, menjabarkan bahwa turunan varian Omicron BA.2 sudah mulai memasuki Negara kita.

Menurut artikel yang dikutip dari Health, varian BA.2 ini merupakan turunan dari varian Omicron (BA.1) yang saat ini sedang diselidiki. Virus ini telah teridentifikasi dari sejumlah Negara Eropa hingga Asia.

Saat ini, ia memprediksi sudah terdapat 10 kasus di Indonesia. Kendati demikian, subvarian ini sangat sulit dideteksi menggunakan alat PCR S Gene Target Failure (SGTF) yang digunakan selama ini untuk skrining varian Omicron BA 1.

Pada kesempatan lainnya, Profesor Tjandra Yoga Aditama selaku Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bagian Asia Tenggara, menjelaskan BA.2 dikenal sebagai “Stealth Omicron” atau dengan kata lain Omicron yang Menipu. Hal ini karena Virus Varian ini susah dideteksi bahkan bisa tidak terdeteksi oleh pemeriksaan PCR SGTF yang kiri sedang marak diandalkan di Indonesia. Varian ini memiliki sifat genetik yang membuat ia jadi lebih sulit untuk diidentifikasi.

“Sekarang memang jumlah BA.2 masih amat kecil, tapi kalau jumlahnya makin banyak maka bukan tidak mungkin dapat mempengaruhi kebijakan yang perlu diambil,” jelas Prof Tjandra pada, Jumat (28/1/2022).

“Di beberapa negara maka BA.2 ini makin meningkat, seperti di India, Filipina dan juga mulai ada laporan antara lain dari Denmark, Inggris dan Jerman,” tuturnya.

Hingga saat ini, masih belum diketahui apakah varian BA.2 ini lebih berbahaya atau tidak dengan varian Omicron. Menurut Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran, varian ini kurang lebih memiliki karakteristik yang sama dengan Omicron.

Saat itu juga, pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Utomo menjelaskan bahwa penularan BA.2 ini diduga akan lebih cepat dibandingkan varian Omicron BA.1. Namun, karena sudah disimpulkan sebagai varian Virus Corona, pencegahan penyebaran subvarian ini masih mengandalkan penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi Covid-19.

“Memang diduga penyebaran BA.2 lebih tinggi, tapi tidak diketahui apakah juga menimbulkan tingkat keparahan gejala. Hingga kini peningkatan penyebaran BA.2 juga tidak diikuti dengan kenaikan angka kenaikan pasien COVID yang dirawat di rumah sakit,” jelas Ahmad.

“Yang pasti secara umum semua varian masih terdeteksi sebagai COVID. Artinya mitigasinya pun masih standar yaitu prokes dan vaksinasi,” pungkasnya.


(dtk)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *