Medianesia.id, Tanjungpinang – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Muhammad Bisri, mengingatkan Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah penderita Tuberkulosis (TBC) terbesar kedua di dunia.
“TBC masih menjadi ancaman serius. Setiap tahun sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat penyakit ini. Karena itu, kita di Kepri harus bekerja lebih keras agar target eliminasi tahun 2030 bisa tercapai,” ujar Bisri dalam rapat percepatan penuntasan TBC di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Kamis, 2 Oktober 2025.
Baca juga: Realisasi Program MBG di Kepri Capai 52 Persen
Bisri menekankan pentingnya deteksi dini melalui skrining aktif (Active Case Finding/ACF) maupun pasif, dengan memanfaatkan teknologi medis seperti Tes Cepat Molekuler (TCM/GeneXpert), pemeriksaan dahak, hingga rontgen dada.
September lalu, pelaksanaan ACF dengan X-ray portable di Bintan dan Tanjungpinang berhasil menjaring lebih dari 1.000 orang, puluhan di antaranya terindikasi TBC. Upaya serupa juga dilakukan di Batam dengan melibatkan organisasi profesi dan kegiatan pengabdian masyarakat.
Baca juga: Wisata Bahari Terindah di Pulau Bintan, Destinasi Pantai Eksotis yang Wajib Dikunjungi
Meski Pemprov Kepri sudah membentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC sejak 2022, sejumlah kendala masih ditemui. Mulai dari keterbatasan cartridge TCM, minimnya mesin X-ray portable, hingga belum maksimalnya peran kader TBC di lapangan.
“Ke depan kita akan menambah 5.000 cartridge TCM, memperkuat kapasitas kader, serta mewajibkan skrining TBC bagi ASN dan tenaga kerja setiap enam bulan. Ini agar penemuan kasus semakin masif dan pengendalian bisa lebih terukur,” tegas Bisri.(Ism)
Editor: Brp





