Medianesia.id, Batam — Umat Islam di seluruh dunia hari ini memperingati 1 Muharram 1447 Hijriah, menandai pergantian tahun baru dalam kalender Islam.
Di Indonesia, hari ini juga ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah untuk menghormati makna penting peristiwa hijrah dalam sejarah Islam.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum spiritual yang mendalam untuk merenungi arah hidup dan memperbarui komitmen dalam menjalankan ajaran Islam.
“Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah arah—dari gelap menuju terang, dari stagnan menuju pertumbuhan, dari biasa menjadi luar biasa dalam nilai dan kontribusi,” ujar Menag dalam keterangan resminya, Kamis (26/6/2025).
Menurut catatan sejarah yang dilansir dari Majelis Ulama Indonesia, 1 Muharram merupakan hari pertama dalam kalender Islam, yang mulai diterapkan sejak masa Khalifah Umar bin Khattab pada tahun ke-17 Hijriah.
Kalender ini ditandai oleh peristiwa besar: hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, lebih dari 14 abad silam.
Hijrah tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah dakwah Islam, yang tidak hanya menyelamatkan umat Islam dari penindasan, tetapi juga membuka jalan bagi penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.
Menag Nasaruddin mengajak umat Muslim untuk menjadikan tahun baru ini sebagai momen introspeksi dan transformasi diri.
Ia mengutip Surah At-Taubah ayat 20, yang menyebut keutamaan orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah.
“Mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita berhijrah dari rutinitas yang hampa makna menuju amal yang bernilai? Sudahkah kita membawa Islam tidak hanya dalam KTP, tapi juga dalam kejujuran, kasih sayang, dan tindakan sehari-hari?” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa perayaan Tahun Baru Islam tidak datang dalam gemerlap pesta, melainkan hadir dalam kesunyian, dzikir, dan renungan.
“Perubahan besar justru lahir dari perenungan paling dalam. Inilah kekuatan hijrah yang sejati,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Menag juga menyoroti kekayaan budaya lokal yang memperkuat makna Muharram di Indonesia.
Dari Tabuik di Pariaman, Grebeg Suro di Jawa, hingga doa bersama di kampung-kampung, semuanya menunjukkan bahwa Islam tidak meniadakan budaya, melainkan menyatu dengannya dalam harmoni.
“Islam yang membumi, yang mewangi tanpa kehilangan kemurniannya, adalah kekayaan kita bersama,” kata Nasaruddin.
Kementerian Agama, menurutnya, berkomitmen menjaga bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga substansi nilai-nilai hijrah dalam kehidupan masyarakat—termasuk di ranah keluarga, pendidikan, pemerintahan, hingga media sosial.
Menutup pesannya, Menag mengajak umat Muslim Indonesia menyambut tahun baru ini dengan tiga kata kunci yakni bersyukur, karena masih diberi umur dan kesempatan, berhijrah, karena stagnasi adalah musuh masa depan serta berkontribusi, karena keimanan sejati harus nyata dalam tindakan.
“Selamat Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Semoga hijrah kita bukan hanya berpindah waktu, tetapi berpindah kualitas hidup,” pungkas Menag.(*)
Editor: Brp





