Medianesia.id, Batam – Saham emiten geotermal PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali anjlok hingga auto reject bawah (ARB) 10 persen untuk papan pemantauan khusus pada lanjutan sesi I perdagangan hari ini, Kamis (6/6/2024).
Penurunan ini membuat harga saham BREN mencapai Rp6.700 per saham, dengan nilai transaksi Rp6,46 miliar dan volume 964 ribu saham.
Penurunan BREN kian parah sejak 22 Mei lalu, saat sahamnya masih di level Rp11.250 per saham dengan kapitalisasi pasar (market cap) Rp1.505,09 triliun, menjadikannya emiten dengan market cap terbesar saat itu.
Kini, market cap BREN telah tergerus hingga ke Rp896,37 triliun akibat ARB berulang selama masa full call auction (FCA).
Angka ini menempatkan BREN di bawah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang kembali menjadi penguasa market cap tradisional dengan Rp1.168,03 triliun.
Secara total, market cap BREN telah ambruk hingga Rp608,73 triliun sejak 22 Mei, angka yang fantastis dan jauh melampaui market cap emiten terbesar keenam saat ini, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang senilai Rp594,17 triliun.
Penurunan ini diperparah dengan dibatalkannya rencana memasukkan BREN ke indeks FTSE pada 27 Juni mendatang.
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi investor, memperparah kondisi saham yang sudah terjebak dalam FCA dan mengalami perdagangan yang tidak likuid dan transparan.
Belum diketahui pasti apa yang akan menjadi langkah selanjutnya bagi BREN untuk keluar dari situasi sulit ini. Investor pun masih menunggu kepastian dan solusi dari pihak emiten.(*/Brp)
Editor: Brp





