Ribuan Ikan Kerapu dan Kakap Putih Hasil Budidaya di Bintan Mati Massal

Ribuan Ikan Kerapu dan Kakap Putih Hasil Budidaya di Bintan Mati Massal
Ikan hasil budidaya di keramba di Desa Pengudang mati massal. F: Ismail

Medianesia.id, Bintan – Ribuan ikan kerapu dan kakap putih di belasan Keramba Jaring Apung (KJA) di Desa Pengujan, Bintan mati massal. Diduga matinya ribuan ikan budidaya ini akibat adanya pencemaran lingkungan dari proyek pembangunan tambak udang oleh PT Terminal Budi Daya Bintan.

Ketua Kelompok Budidaya Ikan Desa Pengujan Bintan, Kamarudin, menyampaikan ada sekitar belasan keramba milik kelompok budi daya yang mengalami kondisi tersebut.

“Suda dari Januari lau tiap hari ada saja ikan yang mati. Baik ikan kerapu dan kakap untuk pembesaran dan pembibitan. Sehari bisa sampai ratusan ekor, rata-rata ukuran 9 cm keatas,” ungkapnya saai ditemui di Bintan, Rabu (26/4) kemarin.

Saat ini, hanya ada 500 ekor ikan kerapu cantik yang tersisa di KJA milik Kamarudin. Sementara ikan kakap putih, hanya tersisa belasan ekor saja, dari 6 ribu ekor yang dibudidayakan sejak November 2022 yang lalu.

Menurut Kamarudin, kondisi yang dialaminya sama dengan 16 kelompok budidaya ikan lainnya. Sebab, KJA kelompok lainnya terletak di perairan yang sama, yakni di Selat Bintan II.

Kamarudin menyampaikan, rata-rata ikan yang mati ini disebabkan mengalami penyakit mulut merah, badan luka, serta sirip dan ekor putus. Bahkan, ada ikan yang badan menghitam dan sirip lepas usai mengalami kematian.

Kamarudin mengaku kondisi ini paling parah yang dia alami, selama beberapa tahun menjadi pelaku usaha pembudidaya ikan kerapu dan kakap putih. Hingga saat ini, dia bahkan tidak mengetahui secara pasti penyebab kematian masal ikan miliknya.

Namun dia menduga, kematian ribuan ikan miliknya itu disebabkan adanya lumpur anyau, yang dialirkan PT Terminal Budi Daya Bintan di Sungai Katang, dan bermuara atau mengalir ke perairan Selat Bintan II.

“Ini dugaan kami, kita pun tidak bisa sembarangan menuduh. Dari hasil Lab juga menyatakan, ikan yang mati positif parasit, sementara parasit berasal dari lumpur,” ungkapnya.

Atas kejadian itu, Kamarudin saat ini sama sekali tidak bisa membudidayakan ikan kerapu maupun kakap putih. Sebab, air laut selat Bintan II tidak lagi baik untuk dua jenis ikan tersebut.

“Kita sudah laporkan ke DLH dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kepri. Besok Kamis, kita akan dipanggil,” kata Kamarudin.

Sementara itu, Hoeslab, pelaku usaha budidaya ikan lainnya menuturkan setidaknya total kerugian yang dialami 17 kelompok budi daya ikan di Desa Pengujan, mencapai Rp. 2 Miliar.

Dia menerangkan, air laut yang mengandung lumpur anyau meluap dan mengalir ke kolam maupun keramba milik belasan kelompok budidaya ikan, sejak Januari yang lalu.

“Ikan Kerapu dan kakap putih yang mayi secara massal tersebut terjadi setiap hari di kolam dan keramba. Sejak Januari hingga saat ini, ” kata Hoeslab.

Hoeslab menyampaikan, budidaya ikan Kerapu dan kakap putih di Desa Pengujan Kecamatan Penaga Kabupaten Bintan merupakan usaha pembibitan dan pembesaran terbesar yang ada di Provinsi Kepri.

Kelompok nelayan budidaya ini menerima bantuan bibit ikan, jaring maupun keramba dari pemerintah daerah selama ini. Hasil budidaya ikan ini dipasarkan di Daerah Natuna, Anambas hingga Lingga.

“Yang pemasaran di Kabupaten Kepulauan Anambas untuk budidaya pembesaran yang akan di eskpor ke Hongkong. Dalam sebulan mencapai 19-20 ton,” pungkasnya.

Penulis : Ism
Editor : Brp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *