Medianesia.id, Tanjungpinang – Pulau Penyengat, ikon sejarah peradaban Melayu serta salah satu ikon wisata halal di Indonesia, kembali menjadi pusat perhatian nasional.
Kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama RI, disambut langsung oleh Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, di Tanjungpinang, Kamis, 16 Oktober 2025.
Dalam kunjungan itu, Gubernur Ansar memaparkan arah besar pembangunan pariwisata dan ekonomi halal di Kepulauan Riau (Kepri), sekaligus memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan Pulau Penyengat sebagai ikon wisata sejarah, budaya, dan halal heritage Indonesia.
“Kepri ini provinsi kepulauan dengan lebih dari 2.408 pulau, 394 di antaranya berpenghuni, dan 22 merupakan pulau terdepan yang langsung berhadapan dengan negara-negara ASEAN. Posisi kami sangat strategis, berada di salah satu dari 10 choke point dunia, yaitu Selat Malaka,” ujar Ansar.
Ia menambahkan, Kepri mendapat banyak keistimewaan dari pemerintah pusat, seperti status Free Trade Zone (FTZ) untuk Batam, Bintan, dan Karimun, serta pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Semua ini menjadi modal besar untuk menjadikan Kepri sebagai gerbang investasi, perdagangan, dan wisata di barat Indonesia.
Hingga Agustus 2025, Kepri mencatat 1,2 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
Gubernur Ansar optimistis hingga akhir tahun jumlah itu bisa menembus 1,8 hingga 2 juta kunjungan, seiring meningkatnya arus kunjungan wisatawan asing di akhir tahun.
“Untuk wisatawan nusantara (wisnus), per Agustus sudah 2,8 juta kunjungan. Kita targetkan bisa mencapai 3,5 juta kunjungan sampai akhir tahun,” ungkapnya.
Ansar juga menekankan, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri masih perlu ditingkatkan.
Saat ini baru sekitar 4 persen, yang sebagian besar dihitung dari hotel serta restoran.
Baca juga: Pemprov Kepri Mantapkan Pembangunan Monumen Bahasa Nasional 2026
“Kalau dihitung secara utuh, termasuk tiket, hiburan, spa, transportasi, dan belanja wisata, kontribusinya bisa jauh lebih besar. Karena itu, kita dorong sektor ini menjadi penggerak ekonomi baru di Kepri,” tegasnya.
Pulau Penyengat sendiri, lanjut Ansar, menjadi simbol penting dalam perjalanan bangsa.
Dengan jumlah penduduk sekitar 3.000 jiwa, pulau kecil ini memberi kontribusi besar bagi Indonesia karena menjadi sumber lahirnya Bahasa Indonesia.
“Pulau ini melahirkan banyak penulis besar dan karya monumental seperti Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Karena itu, tahun depan kita akan membangun Monumen Bahasa Nasional setinggi 60 meter di Pulau Penyengat, sebagai penghormatan terhadap warisan intelektual bangsa,” ujar Ansar.

Selain wisata budaya dan sejarah, Kepri juga sedang menyiapkan diri menjadi pusat industri halal.
Salah satunya melalui pembangunan Halal Hub di Kawasan Industri Lobam, Bintan, dan pengembangan Halal Tourism di Pulau Penyengat.
“Industri halal ini bukan hanya tren, tapi kebutuhan global. Makanan halal berarti bersih dan sehat. Dan dunia kini bergerak ke arah itu,” jelasnya.
Kepala BPJPH, Haikal Hasan, menyampaikan kekagumannya terhadap langkah Pemerintah Provinsi Kepri yang mampu mengintegrasikan pariwisata, budaya, dan ekonomi halal dalam satu arah pembangunan.
“Pulau Penyengat ini luar biasa. Semuanya bisa diterima dengan baik. Kalau industri non-halal sering menimbulkan pro dan kontra, halal justru diterima oleh semua negara. Di Rusia, Amerika, Korea, dan bahkan Cina, kami temukan tren halal terus tumbuh. Dunia sudah mendukung ekonomi halal,” ungkap Haikal.
Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto sangat memahami pentingnya tren ekonomi halal sebagai penggerak ekonomi masa depan.
Baca juga: Pemprov Kepri Komitmen Menuju Kepri Bebas TBC 2030
“Halal bukan hanya simbol agama, tapi simbol kebersihan, kesehatan, dan kepercayaan. Halal adalah gaya hidup modern,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, BPJPH juga menyerahkan sertifikat halal kepada 438 pelaku UMKM di Pulau Penyengat, sebagai bagian dari program nasional 1 juta UMKM bersertifikat halal.
Haikal menegaskan, Kepri memiliki potensi besar untuk menjadi poros wisata halal dan budaya Melayu Indonesia.
Dengan kekuatan sejarah Pulau Penyengat dan dukungan penuh Pemprov Kepri, visi ini akan mudah terwujud.
“Saya yakin, dengan semangat Gubernur Ansar, Kepri bisa menjadi provinsi yang tidak hanya indah, tapi juga berdaya saing tinggi di level internasional,” tutup Haikal Hasan.
Menparekraf: Penyengat Akan Jadi Destinasi Muslim Terbesar se-ASEAN
Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Widiyanti Putri Wardhana, mengapresiasi komitmen Gubernur Ansar Ahmad dan masyarakat Kepri yang terus menjaga dan mengembangkan Pulau Penyengat.
“Kami berharap Pulau Penyengat menjadi destinasi halal dan muslim terbesar di ASEAN,” ujar Menparekraf.
Ia juga berharap sertifikasi halal yang diberikan kepada UMKM dapat memperluas pasar wisata kuliner halal dan meningkatkan daya tarik Kepri di mata wisatawan Muslim dunia.
“Potensi historikal sangat luar biasa, dan kami akan terus mempromosikannya ke mancanegara,” pungkas Menpar.
Pulau Penyengat kini tidak hanya dikenal sebagai situs sejarah, tetapi juga lambang kebangkitan baru Kepri sebagai provinsi berdaya saing global melalui wisata halal. Dalam usia 23 tahun, Kepri telah membuktikan diri sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi dan kunjungan wisatawan urutan ke-3 tertinggi di Indonesia.(ADV)
Editor: Brp





