Medianesia.id, Tanjungpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan nilai-nilai kebangsaan yang berakar dari Tanah Melayu. Salah satunya melalui pembangunan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, yang akan mulai direalisasikan pada tahun 2026 mendatang.
Monumen bersejarah ini tidak dibangun semata-mata sebagai tugu kebanggaan, tetapi menjadi simbol penghormatan terhadap Bahasa Indonesia, bahasa pemersatu bangsa yang lahir dari rahim Bahasa Melayu di Kepulauan Riau.
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, menegaskan pembangunan Monumen Bahasa Nasional ini merupakan bentuk nyata komitmen daerah menjaga warisan budaya dan sejarah bangsa.
“Monumen ini bukan sekadar bangunan, tetapi penegasan bahwa akar Bahasa Indonesia berasal dari Kepri. Ini adalah kebanggaan kita bersama, warisan besar yang harus kita jaga dan tampilkan dengan layak di hadapan dunia,” tegas Gubernur Ansar saat memimpin rapat pemaparan Detail Engineering Design (DED) pembangunan monumen di Gedung Daerah Tanjungpinang awal Oktober 2025 lalu.
Rapat pemaparan tersebut dihadiri berbagai unsur penting, mulai dari Ketua LAM Kepri Raja Al Hafiz, Kepala OPD, akademisi, tokoh masyarakat, hingga tim konsultan perancang dari PT Saranabudi Prakarsa Ripta KSO PT Mirazh Internasional Consultant.
Baca juga: Pemprov Kepri Komitmen Menuju Kepri Bebas TBC 2030
Pemaparan DED meliputi rancangan arsitektur, tata kawasan, hingga tampilan perspektif monumen yang menggabungkan unsur modern dengan nuansa Melayu yang kuat. Ansar menegaskan, seluruh proses pembangunan akan dilakukan secara matang dan partisipatif.
“Kita ingin monumen ini tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga bermakna secara filosofis. Karena itu, semua masukan malam ini akan kita tindak lanjuti agar desainnya sempurna sebelum masuk tahap pembangunan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, pembangunan monumen ini harus menjadi momentum kebangkitan kesadaran budaya.
“Kita tidak ingin gagasan besar ini berhenti di konsep. Tahun 2026, Monumen Bahasa Nasional harus berdiri di Pulau Penyengat sebagai saksi sejarah bahwa dari Kepri lahir Bahasa Indonesia yang menyatukan bangsa,” tegasnya.
“Dari Kepri, bahasa persatuan itu lahir. Dari Pulau Penyengat, semangat kebangsaan itu tumbuh. Dan melalui Monumen Bahasa Nasional, kita menegaskan kepada dunia bahwa Kepri adalah rumah bahasa Indonesia,” sebut Ansar.
Baca juga: Wagub Kepri Turun Langsung ke Dapur MBG, Pastikan Proses Masak Aman dan Higienis
Berbagai pihak pun menyampaikan apresiasi atas langkah strategis Pemprov Kepri tersebut. Kepala Balai Pelestarian Budaya Wilayah IV, Jumhari, menilai pembangunan monumen ini akan memperkuat peran Kepri dalam menjaga identitas nasional.
“Monumen ini bukan hanya simbolis, tetapi juga edukatif. Ia harus membawa manfaat bagi masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kepri, Abdul Malik, menambahkan ide monumen ini telah berproses panjang sejak 2009 dan baru kini mendapat dukungan penuh dari pemerintah provinsi.
“Kita patut mengapresiasi keberanian Gubernur Ansar Ahmad yang berkomitmen mewujudkan cita-cita ini. Dunia sudah mengakui Raja Ali Haji, kini saatnya kita juga mengabadikannya secara layak di tanah kelahirannya,” katanya.
Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat nantinya akan menjadi ikon baru kebudayaan Kepri, sekaligus destinasi wisata edukatif yang memperkenalkan sejarah lahirnya Bahasa Indonesia kepada generasi masa depan.(ADV)
Editor: Brp





