Medianesia.id, Batam – Keberadaan tulisan “Welcome to Batam” (WTB) di Bukit Clara yang selama ini menjadi simbol Kota Batam tengah menghadapi ancaman serius akibat pembangunan gedung di sekitarnya.
Kondisi ini menuai keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk praktisi pariwisata Kepulauan Riau, Buralimar, yang menilai ancaman tersebut dapat merusak citra Batam sebagai kota pariwisata.
“Landmark ini sudah menjadi daya tarik utama Batam, baik untuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Jika hilang atau tertutup, tentu ini menjadi kerugian besar,” ujar Buralimar, Rabu (18/12/2024).
Tulisan “Welcome to Batam” di Bukit Clara selama bertahun-tahun menjadi lokasi favorit wisatawan untuk berfoto.
Jika pembangunan di sekitar lokasi tidak dikelola dengan baik, potensi kehilangan daya tarik utama ini akan semakin nyata.
“Wajar jika wisatawan kecewa, karena kita sebagai warga Batam pun ikut merasa kehilangan. Ini adalah ikon kota yang seharusnya dilestarikan,” katanya.
Buralimar juga menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap aspek sejarah dan budaya di Bukit Clara.
Ia mengingatkan adanya patok peninggalan zaman Belanda di lokasi tersebut yang menambah nilai sejarah tempat itu.
“Bukit Clara layak dijadikan cagar budaya, tidak sekadar ikon pariwisata. Upaya pelestarian harus diprioritaskan,” tegasnya.
Mantan Kadis Pariwisata Kepri ini mendesak Pemerintah Kota Batam, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, serta BP Batam untuk segera duduk bersama mencari solusi.
Ia menilai perlunya langkah konkret guna memastikan ikon “Welcome to Batam” tetap terlihat dan menjadi daya tarik utama.
“Batam dikenal sebagai kota perdagangan, industri, dan pariwisata. Ketiganya harus berjalan seimbang. Jika pariwisata diabaikan, kita kehilangan potensi besar, termasuk kontribusi dari UMKM yang bergantung pada sektor ini,” tambahnya.
Selain mempertahankan ikon lama, Buralimar mengingatkan perlunya pengembangan destinasi wisata baru di Batam.
Menurutnya, pengembangan destinasi baru berjalan lambat, sementara persaingan dengan daerah lain semakin ketat.
“Batam membutuhkan lebih banyak destinasi yang segar dan menarik untuk wisatawan. Ini juga akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi lokal,” katanya.
Dengan ancaman yang mengintai ikon “Welcome to Batam,” Buralimar berharap seluruh pemangku kebijakan dapat segera bertindak. “Pelestarian ikon wisata bukan hanya soal estetika, tetapi juga keberlanjutan ekonomi dan identitas kota,” tutupnya.(*)
Editor: Brp





