Medianesia.id, Batam – Perayaan Natal di Bethlehem, Tepi Barat, Palestina, terasa berbeda dan penuh duka akibat eskalasi serangan Israel ke Gaza.
Kota tempat kelahiran Yesus ini kini tenggelam dalam suasana sepi tanpa sorotan perayaan musik, upacara penyalaan pohon, atau dekorasi khas Natal.
Di Gereja Lutheran, pendeta menciptakan simbol penitipan anak Yesus yang terpaku dalam realitas konflik. Bayi Yesus terbungkus kain keffiyeh, lambang identitas Palestina, ditempatkan di antara reruntuhan yang melambangkan kehancuran Gaza. Puing-puing batu dan ubin mewakili kondisi tragis yang melanda sebagian besar wilayah tersebut.
Pendeta Munther Isaac, dari Gereja Natal Evangelis Lutheran, menyampaikan kesedihan mereka, “Tuhan ada di bawah reruntuhan di Gaza, di sinilah kita menemukan Tuhan saat ini.”
Sebelumnya, pemimpin gereja dan para pemimpin agama di Yerusalem meminta jemaat untuk menghindari perayaan Natal yang meriah dan lebih memusatkan perhatian pada makna spiritual Natal melalui kegiatan pastoral dan liturgi.
Di wilayah Bethlehem yang dihuni sekitar 35 ribu umat Kristen, suasana Natal berubah drastis. Pohon Natal raksasa yang biasanya berdiri megah di pusat kota tidak ada tahun ini. Konflik meruncing, dan dampaknya terasa nyata di tempat kelahiran Yesus.
Pendeta Rami Asakrieh menjelaskan, “Kami akan menghindari musik, upacara di luar ruangan, dan dekorasi di luar ruangan.”





