Medianesia.id – Momen perayaan Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili pada 23 Januari 2023, seluruh kawasan Pulau Bintan dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga deras. Kondisi tersebut, dipercaya oleh segenap masyarakat Tionghoa di Indonesia akan membawa keberkahan dan rezeki yang melimpah.
Namun demikian, ada penjelasan logis kenapa momen pergantian tahun bagi Warga Tionghoa itu kerap dilanda hujan.
Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Khalid Fikri, menjelaskan meski wilayah Pulau Bintan tidak memiliki musim yang pasti. Namun, para periode tertentu seperti bulan Desember-Januari-Februari memang masuk musim hujan di sejumlah daerah Indonesia, termasuk Provinsi Kepri.
“Ditambah secara Meteorologi pembentukan awan tebal memang sedang terjadi di Pulau Bintan. Karena, ada pertemuan angin yang bergerak ke daerah sini, sebab sekarang masuk musim Utara. Maka, terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ungkapnya, Selasa (24/1).
Ia menuturkan, sebanarnya musim hujan di bulan Januari ini biasa terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, di kawasan Pulau Bintan ini terjadi agak terlambat yakni dimulai sejak pertengahan bulan Januari.
Hal itu disebabkan, pada awal Januari lalu Pulau Jawa dilanda hujan dengan intensitas lebat. Sehingga, kawasan Pulau Bintan mengalami defisit pembentukan awan yang tidak dapat terjadi hujan.
“Nah, karena saat ini di Jawa sudah berkurang, maka giliran daerah kita yang dilanda hujan dengan intensitas lebat,” sebutnya.
BMKG meramalkan, musim hujan di Pulau Bintan akan terjadi hingga sepekan kedepan. Lalu, masuk pada Februari curah hujan akan mulai berkurang.
“Kemungkinan, masuk Februari hujan akan jarang terjadi. Namun, akan meningkat pada Maret dan April,” sebutnya.
Kendati demikian, lanjut Khalid, BMKG mengimbau agar masyarakat tetap waspada dengan kondisi cuaca saat ini. Terutama, masyarakat yang beraktifitas di daerah perairan. Sebab, dengan curah hujan yang terjadi saat ini dapat memicu gelombang tinggi.
“Kami imbau waspada, karena musim Utara ini cuaca di laut bisa berubah seketika,” imbaunya.
(ISM*)





