Medianesia, Batam — Sutradara James Cameron menegaskan komitmennya untuk kembali menggunakan teknologi high-frame-rate (HFR) dalam film terbarunya, Avatar: Fire and Ash.
Pernyataan tersebut disampaikan Cameron sebagai tanggapan atas kritik yang mempertanyakan efektivitas dan nilai artistik format gambar berkecepatan tinggi tersebut.
Cameron menyebut keberhasilan komersial film sebelumnya sebagai salah satu dasar keyakinannya.
Baca juga: Sinopsis dan Daftar Pemain Film Tukar Takdir 2025, Ada Nicholas Saputra
Ia merujuk pada capaian box office Avatar: The Way of Water yang mencatat pendapatan sekitar Rp38,3 triliun.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan visual yang digunakan tetap mendapat sambutan luas dari penonton.
Dalam sebuah wawancara, Cameron menyatakan bahwa keputusan penggunaan HFR juga didasarkan pada preferensi artistiknya sebagai pembuat film.
Ia menegaskan bahwa format tersebut merupakan bagian dari visi kreatif yang ingin ia hadirkan dalam seri Avatar.
Baca juga: Gung Adhistya dan Animasi Ikan Mas Tur Dedari, Gabungkan Budaya Tradisional dengan Visual Modern
Secara umum, film diproyeksikan dengan standar 24 frame per second (fps). Teknologi HFR yang diterapkan Cameron meningkatkan kecepatan tersebut menjadi 48 fps.
Pendekatan ini bertujuan menghadirkan gerakan yang lebih halus dan detail visual yang lebih tinggi, terutama pada adegan tertentu seperti pertempuran dan eksplorasi bawah air, khususnya dalam format tiga dimensi.
Meski demikian, penggunaan HFR masih menuai beragam tanggapan. Sejumlah pengamat dan penonton menilai tampilan visual dengan frame rate tinggi mengurangi kesan sinematik klasik.
Mereka berpendapat gambar terlihat terlalu tajam dan digital, sehingga menyerupai tayangan video gim dibandingkan film konvensional.
Baca juga: Foo Fighters Kembali ke Jakarta Setelah 29 Tahun
Avatar 3 dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia pada 17 Desember 2025. Film ini menjadi lanjutan dari waralaba Avatar yang dikenal dengan eksplorasi teknologi visual mutakhir.
James Cameron sendiri dikenal sebagai sutradara yang kerap mendorong batas teknologi dalam industri perfilman.
Sebelum Avatar: Fire and Ash tayang, Avatar (2009) memperkenalkan penggunaan 3D secara luas dan hingga kini masih tercatat sebagai film dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, dengan total pendapatan sekitar Rp48,4 triliun.(*)
Editor: Brp





