Menurutnya, yang jualan di sini tidak hanya warga Tionghoa, namun juga dari berbagai etnis dan suku bangsa. Patut merasa bangga, Kepri ini adalah miniaturnya Indonesia.
“Walau daratannya hanya 4 persen, tapi seluruh etnis, adat, dan suku bangsa ada di Kepri. Dan sampai saat ini tidak ada konflik horizontal,” jelasnya.
Gubernur Ansar juga mengatakan ke depan semua bagian Kota Tua akan memiliki wajah yang sama, sehingga menjadi ‘heritage town’ yang menarik bagi wisatawan.
“Kita akan terus membangun Kepri. Kita ingin semua bagian Kota Tua ini wajahnya akan seperti Jalan Merdeka dan Jalan Teuku Umar. Akan dilanjutkan ke jalan lainnya, sehingga akan menjadi ‘heritage town’ nya Tanjungpinang,” kata Gubernur Ansar.
Rina, satu diantara pengunjung lainnya mengaku senang bisa berbelanja di Bazar Imlek. Ia mengatakan, banyak barang yang menarik dan murah di sini. Selain itu berbagai macam kuliner tersedia di sini.
“Saya suka belanja di sini, banyak barang yang lucu-lucu dan harganya juga terjangkau. Kalau lapar atau haus, tinggal pilih mau makan dan minum apa. Semuanya ada di sini” kata Rina.
Sementara itu, pegiat UMKM, Siti, mengatakan bahwa Bazar Imlek merupakan kesempatan bagi dirinya untuk mempromosikan produknya. Ia mengaku, omzetnya meningkat sejak berjualan di Bazar Imlek.
Siti juga mengapresiasi panitia bazar pemerintah yang memberikan fasilitas dan kemudahan bagi UMKM untuk berjualan di Bazar Imlek. Ia berharap, kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan setiap tahun.





