Medianesia.id, Tanjungpinang – Mega proyek Estuari DAM yang digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang pemenuhan kebutuhan air baku di Pulau Bintan dan Batam terus dipersiapkan secara matang.
Proyek yang telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) ini diperkirakan menelan anggaran hingga Rp14 triliun. Asisten II Bidang Ekonomi Pemprov Kepri, Luky Zaiman Prawira, memastikan proyek ini tidak akan merendam banyak wilayah daratan.
“Estuari DAM ini tidak dibangun di atas daratan, melainkan membendung laut dari kawasan Madong, Senggarang (Tanjungpinang) hingga ke Teluk Bintan. Jadi, jangan termakan isu yang menyebut proyek ini akan menenggelamkan banyak desa,” ujarnya.
Luky mengatakan, pembangunan bendungan di laut ini menjadi solusi paling rasional dibandingkan alternatif sebelumnya seperti Bendungan Busung atau Kawal, yang berisiko menenggelamkan lebih banyak daratan.
Menurutnya, kebutuhan air di Bintan dan Batam saat ini sangat tinggi. Di Pulau Bintan saja, PDAM baru mampu memenuhi sekitar 34 persen kebutuhan air bersih masyarakat.
“Volume yang tersedia saat ini belum cukup. Estuari DAM menjadi opsi paling worth it,” ucap Luky.
Ia menjelaskan, proyek Estuari DAM akan mengintegrasikan infrastruktur bendungan laut dengan jaringan transmisi air menuju Bintan dan Batam.
“Air laut akan ditampung dan diproses menjadi air tawar menggunakan teknologi khusus, kemudian disalurkan melalui jaringan distribusi hingga ke konsumen,” terangnya.
Dampak Sosial dan Ekonomi Jadi Perhatian
Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, berkomitmen mendukung proyek strategis Estuari DAM di Pulau Bintan. Ia menekankan pentingnya kajian mendalam terhadap dampak sosial dan lingkungan.
Ia juga berharap agar masyarakat dilibatkan secara aktif agar proyek ini benar-benar memberikan manfaat jangka panjang.
“Karena pelaksanaannya berada di daerah, maka tentu tidak terlepas dari aspek sosial, lingkungan, dan pengadaan lahan. Kita akan membentuk tim kecil untuk mendampingi prosesnya, karena air adalah hajat hidup orang banyak,” tegasnya saat memimpin rapat rencana pembangunan Estuari DAM dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) bersama Konsorsium PT Tamaris Hydro dan PT Moya Indonesia di Kantor Gubernur Kepri, Dompak, Selasa, 10 Juni 2025.
Pemprov Kepri juga telah berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh terhadap percepatan proyek, termasuk akomodasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), integrasi dalam RISPAM, serta pelaksanaan kajian sosial dan penetapan lokasi proyek.
“Yang paling penting adalah sosialisasi ke masyarakat. Proyek ini sangat strategis, tidak hanya untuk ketahanan air, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah ke depan,” pungkas Gubernur.
Vice President PT Moya Indonesia, Daud, mengungkapkan selain bendungan dan reservoir, proyek juga akan mencakup pembangunan unit air baku, unit produksi air bersih, dan infrastruktur jalan di atas bendungan.
Daud menambahkan, proyek estuari DAM ini ditargetkan mampu menutup kesenjangan pasokan air baku yang diprediksi akan terjadi pada 2029 di kedua pulau tersebut. (Ism)
Editor: Brp





