Medianesia.id – Kiswah Ka’bah atau kain penutup ka’bah di Masjidil Haram ini terbuat dari sutera berkualitas tinggi yang berasal dari Italia. Pada kain tersebut juga terdapat tulisan ayat-ayat suci Al-qur’an. Tulisan tersebut ditenun dengan benang emas dan perak.
Kain kiswah ini dibuat oleh 200 orang pekerja dan pengerjaannya memakan waktu sekitar 8 hingga 10 bulan. Pada setiap tahunnya, Kiswah ini dinaikkan setinggi tiga meter ketika waktu ibadah haji akan tiba. Hal ini ditengarai supaya kain ini tidak rusak saat Jemaah haji melaksanakan ibadah tawaf mengelilingi ka’bah.
Prosedur ini, dilakukan setiap tahun sebelum musim haji tiba demi melindungi Kiswah. Hal ini disebabkan beberapa pengunjung Masjidil Haram menyentuh dan menarik kain hitam ketika mereka melakukan Tawaf di Ka’bah.
Setiap tahunnya, kiswah akan dinaikkan setinggi tiga meter bertepatan dengan ibadah haji, hal yang lumrah dilakukan agar kain tersebut tidak rusak saat jemaah haji melaksanakan ibadah tawaf mengelilingi ka’bah. Sebagai gantinya, etika kain kiswah dijahit untuk dinaikkan 3 meter, ka’bah akan ditutup dengan kain putih.
Pada tanggal 9 Dzulhijah, Kiswah akan dipasang untuk menutupi bangunan suci Ka’bah. Keberadaan kiswah ini diyakini bahwa akan memuliakan dan menghormati tempat yang dianggap paling suci dalam Tradisi Agama Islam ini.
Setelah adanya prosedur baru ini, biasanya setelah kiswah baru menutupi Ka’bah, kiswah yang lama yang menampilkan ayat-ayat Al Qur’an dikeluarkan dan dipotong-potong. Setelah itu, potongan-potongannya akan diserahkan kepada organisasi dan pejabat Muslim yang berkunjung. Sejarah kiswah digunakan untuk menutupi Ka’bah ini dimulai setelah penaklukan Makkah pada tahun ke Sembilan Hijriah, Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam menutupi Ka’bah dengan Pakaian Yaman saat Beliau melakukan haji perpisahan. Kain yang digunakan Nabi saat itu adalah kain bergaris putih dan merah.
Kemudian, dilanjutkan oleh Para Sahabat Nabi yaitu, Abu Bakar Al-Siddiq, Umar ibn Al-Khattab, dan Utsman bin Affan menutupinya dengan kain warna putih, hal ini juga berlanjut dan oleh Ibn Al-Zubair menutupinya dengan brokat merah.





