Medianesia.id, Tanjungpinang – Program Kepri Terang yang digagas Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad terus menunjukkan hasil nyata.
Sejak diluncurkan pada tahun 2021, program ini telah berhasil meningkatkan rasio elektrifikasi Kepri hingga 99,98 persen pada tahun 2025.
Program tersebut memberikan akses listrik bagi belasan ribu rumah tangga di seluruh kabupaten/kota, terutama di wilayah-wilayah pesisir dan pulau terpencil.
Kini, seluruh ibu kota kecamatan di Kepri telah menikmati listrik PLN selama 24 jam penuh.
“Realisasinya luar biasa. Kita banyak mendapat porsi besar dari program PLN Masuk Desa, baik melalui penyambungan kabel bawah laut, pembangunan tower crossing antarpulau, maupun pemanfaatan energi baru terbarukan seperti solar home system,” ujarnya di Tanjungpinang, Rabu, 22 Oktober 2025.
Meski hampir seluruh wilayah sudah terang benderang, Ansar mengakui masih ada beberapa kampung kecil di pulau terpencil yang belum terjangkau jaringan PLN.
Pemerintah Provinsi Kepri bersama PLN kini tengah membahas langkah intervensi agar seluruh daerah bisa mendapatkan aliran listrik merata.
Baca juga: Pemprov Kepri Komitmen Jaga Program Bantuan Sosial di Tengah Keterbatasan Anggaran
“Kita juga bertahap membeli mesin genset untuk pulau-pulau yang perlu ditingkatkan pelayanannya menjadi 24 jam. Pengelolaannya tetap kita kerja samakan dengan PLN karena mereka sangat responsif,” jelas Ansar.
Selain memperluas jaringan listrik, Pemprov Kepri juga menjalankan program penyambungan listrik gratis bagi rumah tangga tidak mampu.
Program ini membantu masyarakat memanfaatkan listrik secara optimal sekaligus meringankan beban ekonomi mereka.
“Kalau sambungannya terlalu sedikit, beban subsidi PLN juga besar. Jadi kita bantu dengan penyambungan gratis agar masyarakat bisa menikmati listrik dengan layak,” tambahnya.

Dalam kurun waktu empat tahun terakhir (2021–2024), tercatat 12.764 rumah tangga pra-sejahtera telah menerima bantuan pasang baru listrik (Bantuan Pasang Baru Listrik/BPBL).
Jumlah itu terdiri atas 4.524 rumah tangga pada 2021, 1.739 pada 2022, 2.895 pada 2023, dan 3.606 pada 2024.
Bantuan tersebut bersumber dari berbagai skema pendanaan, yakni APBD (2.356), APBN (4.998), dana CSR (5.114), serta 296 unit solar home system (SHS) untuk wilayah terpencil.
Sistem kelistrikan PLN di Kepri juga meningkat signifikan, dari 96 sistem pada 2021 menjadi 114 sistem pada 2024.
Baca juga: Estuary Dam Masuk PSN, Jawaban Krisis Air Batam dan Bintan
Jumlah sistem nyala 24 jam bertambah dari 30 menjadi 36, sementara sistem nyala 14 jam naik dari 65 menjadi 78.
Hingga April 2025, PLN mencatat adanya tambahan 8 sistem baru beroperasi penuh di ibu kota kecamatan.
Meski begitu, masih terdapat 86 pulau non-PLN yang baru menikmati listrik lima jam per hari, serta 36 pulau berpenghuni yang belum berlistrik.
Ansar menegaskan, pemerintah tidak akan berhenti hingga seluruh pulau di Kepri mendapatkan aliran listrik yang layak.
“Listrik adalah nyawa pembangunan. Dengan nyala 24 jam, aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik bisa berjalan optimal. Ini akan mempercepat kemajuan daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tegasnya.
Ia optimistis, pada akhir 2025 seluruh wilayah Kepri akan teraliri listrik sepenuhnya, termasuk pulau-pulau kecil yang selama ini mengandalkan listrik swadaya.
“Mudah-mudahan tahun ini semuanya bisa terealisasikan. Target kita jelas, semua warga Kepri, di pulau manapun, harus merasakan terang benderang,” pungkas Ansar.(ADV)
Editor: Brp





