Suku Laut merasa tercerabut dari akar budaya mereka. Seperti Nenek Mani, perempuan tertua di suku Laut Air Mas yang lahir pada tahun 1927, masih terus gigih membuat kajang untuk perahunya sendiri.
“Kami berharap setiap hari membawa perubahan bagi kehidupan kami, terutama di masa tua seperti sekarang,” katanya sambil tersenyum getir.
Nukila Evanty, Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA), menyoroti perlunya tindakan konkret untuk mendukung suku laut di Kepulauan Riau.
Pengakuan identitas suku laut ini sangat penting. Jumlah mereka yang masih mempertahankan tradisi sebagai suku laut sekarang bisa dihitung dengan jari.
“Jika tidak ada langkah konkret untuk mendukung mereka, kita akan kehilangan satu lagi bahasa dan budaya lokal, serta pengetahuan yang berharga tentang laut.” tegasnya.
Dibutuhkan pendekatan komprehensif dan multisektor untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan di suku laut.
Mulai dari akses kesehatan, pendidikan, hingga peralatan bantu untuk perempuan lanjut usia dan dengan disabilitas. Akses sekolah yang jauh dari kediaman mereka menjadi salah satu tantangan utama yang perlu segera diatasi.
“Kebijakan yang sensitive gender dan didukung oleh data berbasis gender sangat diperlukan. Hal ini akan memungkinkan pemerintah untuk melakukan intervensi yang tepat bagi perempuan di suku laut,” jelasnya.
Tanpa perhatian khusus terhadap gender, upaya pembangunan akan gagal mencapai tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan.
Evanty menegaskan bahwa terus menerusnya pembiaran akan merugikan pemerintah sendiri, dan menyulitkan pencapaian komitmen dalam Sustainable Development Goals di dunia internasional. Selesai..(*)
Editor : Ags





