Ketika dia masih berumur 14 tahun, dia sudah dianggap “gadis” dan harus tidur terpisah dari orang tuanya di perahu lainnya.
“Setiap malam, saya merindukan aroma laut yang membesarkan saya,” ungkapnya sambil tersenyum getir.
Meskipun kehidupannya sulit, Bu Iyah tetap mencintai laut. Dia menggunakan cara-cara tradisional seperti tombak sederhana untuk menangkap ikan.
Ia dengan lancar menyebutkan berbagai jenis ikan yang selalu ditangkap di laut luas.
Namun, ketika pemerintah memberikan rumah kepadanya, kebahagiaannya tak berlangsung lama. Dia merasa terbebani saat rumah itu harus dijual, terutama karena dia tidak betah di daratan.
“Saya tidak merasa nyaman di darat. Rumah sampan dengan kajang adalah segalanya bagiku,” ungkapnya dengan sedih.
“Tetapi pemerintah hanya memberi kami bantuan sesaat, setelah itu mereka pergi dan tidak lagi memperhatikan keinginan kami untuk kembali memiliki sampan.” ucapnya lagi.





