Penulis Opini : Kayla Rania Putri
Mahasiswi Jurusan Sastra inggris
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung
Medianesia.id, Bandung – Judi telah menjadi epidemi dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pelakunya adalah siswa atau pelajar SMA. Ada banyak penyebab orang berjudi seperti kekurangan uang jajan, tergoda oleh teman penjudi, aksesibilitas situs judi yang muda.
Namun, ada kebiasaan tertentu yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang siswa SMA beralih ke perjudian online. Kebiasaan ini adalah merokok dan hal ini bisa merupakan cikal bakal lahirnya masalah judi di kalangan siswa SMA.
Menurut sebuah penelitian yang berjudul “Gambling behaviors and attitudes in adolescent high-school students: Relationships with problem-gambling severity and smoking status”, merokok disebutkan sebagai tanda perilaku berjudi yang parah pada remaja.
Para perokok yang berpartisipasi dalam sebuah penelitian dilaporkan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami masalah perjudian yang parah daripada mereka yang tidak merokok. Dengan statistik ini, penting untuk melihat bagaimana rokok dapat mempengaruhi otak.
Merokok menimbulkan zat kimia yang disebut nikotin di otak. Zat kimia ini sangat adiktif yang menyebabkan orang terus merokok.
Menurut sebuah penelitian yang berjudul “The comorbidity of tobacco smoking and gambling: a review of the literature”, ada bukti bahwa paparan terhadap satu bentuk ketergantungan dapat meningkatkan keinginan untuk ketergantungan lain seperti perjudian.
Bahkan, perokok ditemukan tujuh kali lebih berisiko untuk mengalami kecanduan judi online dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.
Jadi, merokok tidak hanya meningkatkan risiko seseorang berjudi, tetapi juga meningkatkan kemungkinan mereka mendapat kecanduan judi. Itu tidak berarti semua perokok adalah penjudi, tetapi perokok remaja memiliki risiko lebih tinggi untuk berjudi.
Bagaimana kita mencegahnya? Sekolah dapat membantu mencegah remaja merokok dengan mengajarkan siswa SMA tentang efek negatif dari merokok.
Guru dapat menjelaskan bagaimana merokok dapat menyebabkan nilai yang lebih rendah, mengganggu fokus mereka dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan membuat mulut mereka bau serta gigi menjadi kuning.
Sekolah juga dapat mengadakan seminar atau mengundang profesional kesehatan untuk membahas subjek tersebut.
Orang tua juga dapat membantu mencegah anaknya merokok dengan menjadi panutan yang baik bagi anak-anak mereka dan tidak memperbolehkan mereka bergaul dengan remaja lain yang merokok.
Jika seorang remaja merokok, bagaimana cara kita menghentikannya? Saran yang populer adalah agar sekolah mengancam akan memberikan sanksi skorsing atau pengusiran bagi remaja perokok di sekolah.
Namun, hal ini hanya boleh digunakan sebagai pilihan terakhir jika remaja tersebut menolak untuk mengubah kebiasaan mereka meskipun guru berulang kali mencoba membantu mereka berhenti. Seharusnya, kita harus menegaskan peraturan yang berbeda di sekolah untuk mengatasi perokok SMA.
Jika seorang siswa tertangkap merokok di sekolah atau diketahui merokok di luar sekolah, guru harus menasehati siswa tersebut dengan menanyakan alasan mereka mulai merokok.
Menentukan alasan kenapa mereka merokok akan bermanfaat bagi guru untuk membantu mereka mengatasi masalah tersebut dan membantu mereka berhenti merokok.
Perokok remaja berisiko tinggi melakukan perjudian. Merokok telah terbukti meningkatkan kemungkinan kecanduan judi di kalangan siswa SMA yang memiliki banyak efek negatif dan membahayakan masa depan mereka.
Sekolah dan orang tua dapat mencegah perilaku tersebut dengan mengajarkan efek negatif dari merokok di usia muda dan menjadi panutan yang baik bagi siswa.
Jika seorang siswa tertangkap merokok, sebaiknya guru harus coba pahami penyebab perilaku mereka serta membantu menghentikan kebiasaan tersebut dan hanya mengusir siswanya jika intervensi tidak berhasil.
Siswa SMA yang merokok beresiko untuk beralih ke perjudian, tetapi dengan pendidikan yang baik, kita dapat membantu para siswa menjalani kehidupan yang lebih baik dan mencegah mereka untuk merokok. (*)
“Segala sesuatu yang terbit dalam opini publik ini menjadi tanggungjawab penulis”
Editor : Ags



