Jurnalis Batam Bisa Dapat Rp2 Juta dari Fellowship Liputan Lingkungan, Cek Syaratnya

Jurnalis Batam Bisa Dapat Rp2 Juta dari Fellowship Liputan Lingkungan, Cek Syaratnya
Jurnalis Batam Bisa Dapat Rp2 Juta dari Fellowship Liputan Lingkungan, Cek Syaratnya. Foto: dok. AJI Batam.

Medianesia.id, Batam – Memperingati Hari Mangrove Sedunia, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam bersama Akar Bhumi Indonesia membuka program fellowship liputan lingkungan untuk jurnalis dan pers mahasiswa di Kota Batam.

Program ini menyediakan beasiswa liputan sebesar Rp2 juta bagi peserta terpilih yang akan menyoroti isu penyelamatan mangrove dari ancaman pembangunan pesisir yang masif dan tidak berkelanjutan.

Ketua AJI Batam, Yogi Eka Sahputra, menegaskan bahwa program ini tidak hanya menawarkan dukungan finansial, tetapi juga mendorong jurnalis memperkuat kemampuannya dalam menulis isu lingkungan secara mendalam dan berbasis data.

“Mangrove adalah benteng terakhir ekosistem pesisir Batam. Fellowship ini adalah dorongan nyata agar jurnalis terlibat aktif menjaga lingkungan lewat tulisan yang berpihak pada kelestarian,” ujar Yogi.

Syarat dan Proses Seleksi Fellowship

Program ini terbuka untuk jurnalis aktif dan anggota pers mahasiswa di Batam (dibuktikan dengan kartu pers), peserta wajib mengikuti workshop daring bertajuk “Memahami Liputan Isu Lingkungan” pada Jumat, 18 Juli 2025, pukul 19.00–20.00 WIB.

Pendaftaran dan pengajuan proposal:

[http://bit.ly/FellowshipAJIBatamHariMangrove](http://bit.ly/FellowshipAJIBatamHariMangrove)

Sebagai puncak kegiatan, AJI Batam dan Akar Bhumi akan menggelar Diskusi Publik Hari Mangrove Sedunia pada Kamis, 25 Juli 2025 pukul 19.00 WIB hingga selesai.

Acara ini terbuka untuk umum dan akan membahas tantangan pelestarian ekosistem mangrove di Batam, terutama di tengah pesatnya pembangunan wilayah pesisir.

Founder Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, menyampaikan bahwa tahun ini diskusi menjadi sangat penting karena telah terbit PP No. 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pelestarian Ekosistem Mangrove.

“Regulasi ini adalah payung hukum penting untuk menjaga kearifan lokal. Batam dan Kepri sebagai wilayah pulau-pulau kecil wajib memperkuat perlindungan pesisir, dan diskusi ini menjadi ruang kolektif memahami peran kita semua,” jelas Hendrik.

Terkait dengan fellowship, Hendrik menambahkan bahwa walaupun dukungan dana mungkin tidak besar, program ini diharapkan mampu melahirkan karya jurnalistik yang berdampak dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, khususnya mangrove.

“Karena memang mangrove menjadi campain kita menghadapi perubahan iklim. Dan para jurnalis mengambil peran itu bagaimana berkontribusi dalam tulisan lingkungan hidup,” jelasnya.

Pengumuman peserta fellowship liputan lingkungan terpilih akan dilakukan dalam diskusi publik tersebut.

AJI Batam dan Akar Bhumi berharap kegiatan ini menjadi wadah kolaboratif antara jurnalis, akademisi, aktivis, dan masyarakat sipil dalam memperkuat advokasi pelestarian mangrove.

“Kami percaya bahwa jurnalis dapat berkontribusi nyata menyuarakan pentingnya pelestarian mangrove. Mangrove adalah salah satu jawaban atas krisis iklim, dan liputan berkualitas bisa menjadi bagian dari perubahan,” tutup Hendrik.(*)

Editor: Brp

Pos terkait