Joko Anwar Rilis Film Pengepungan di Bukit Duri: Thriller Sosial yang Menggugah Nurani

Joko Anwar Rilis Film Pengepungan di Bukit Duri: Thriller Sosial yang Menggugah Nurani
Memperingati 20 tahun kiprahnya di dunia perfilman, sutradara Joko Anwar merilis karya terbaru bertajuk Pengepungan di Bukit Duri (The Siege Thorn High). Foto: X/Joko Anwar.

Medianesia.id, Batam — Memperingati 20 tahun kiprahnya di dunia perfilman, sutradara Joko Anwar merilis karya terbaru bertajuk Pengepungan di Bukit Duri (The Siege Thorn High).

Film ini menjadi film ke-11 dalam portofolionya, menandai pergeseran genre dari horor menuju thriller-aksi sosial yang justru terasa lebih mencekam secara emosional.

Film ini berkisah tentang Edwin (diperankan Morgan Oey), seorang pria keturunan Tionghoa yang mengajar seni di sebuah SMA bermasalah di kawasan Jakarta Timur.

Sekolah itu dipenuhi siswa bermasalah, termasuk Jefri (Omara Esteghlal), pemimpin geng yang brutal dan bengis.

Konflik memuncak ketika Edwin terkepung dalam gedung sekolah, terjebak dalam situasi antara hidup dan mati.

Bukan oleh makhluk gaib, tetapi oleh kekerasan dan kebencian yang dilakukan manusia terhadap sesamanya.

Meski tidak secara eksplisit disebutkan, film ini memuat adegan yang merefleksikan kerusuhan rasial dan kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia, khususnya terhadap komunitas Tionghoa pada 1998.

Peristiwa-peristiwa tersebut digambarkan melalui visual yang detail dan simbolik, seperti coretan grafiti, tembok lusuh, dan kerusuhan massal.

Joko Anwar pun menyisipkan trigger warning dalam film ini, mengingat kuatnya elemen kekerasan dan isu rasial yang dapat membangkitkan trauma.

Penampilan Morgan Oey dan Omara Esteghlal mencuri perhatian. Omara sukses membawakan karakter Jefri tanpa perlu banyak dialog, cukup dengan sorot mata dan ekspresi tajam yang meninggalkan kesan mendalam.

Deretan pemeran pendukung pun tampil apik, termasuk Satine Zanita yang menjadi satu-satunya anggota perempuan dalam geng Jefri, menghadirkan dinamika unik di tengah dominasi maskulinitas yang penuh kekerasan.

Film Pengepungan di Bukit Duri tidak hanya menampilkan ketegangan dan kekerasan, tetapi juga menggugah penonton untuk merefleksikan isu-isu besar seperti keadilan, trauma kolektif, dan potret pendidikan di Indonesia.

Film ini mempertanyakan: apakah para korban kekerasan sudah mendapatkan keadilan? Apakah kita cukup peduli untuk mencegah sejarah kelam agar tidak terulang?

Dengan nuansa kelam, penuh kritik sosial, namun tetap menyisakan harapan, film ini mampu menjadi pemantik diskusi publik soal masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa.(*)

Editor: Brp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *