Medianesia.id – Pentingnya menjaga sel-sel tubuh untuk tetap sehat dan bugar supaya berfungsi sebagaimana mestinya, tertutama pada wabah covid-19 seperti sekarang ini. Harus diwaspadai, kekurangan ataupun mengonsumsinya secara berlebihan dapat membahayakan tubuh kita.
Beberapa orang tidak mendapatkan cukup vitamin D, sehingga mengkonsumsi suplemen menjadi sebuah jalan keluar. World Health Oragnization (WHO) pernah menyebutkan rendahnya rata-rata kadar vitamin D penduduk Indonesia, yakni 17,2. Padahal kisaran normal kadar vitamin D dalam tubuh adalah antara 30 hingga 60 nanogram per mililiter
Jika kita ingin memeriksa kadar vitamin D dalam tubuh, dapat dilakukan dengan tes darah yang disebut 25-hydroxyvitamin D, dengan pengukuran nanogram per mililiter. Walaupun dapat meningkatkan daya tahan tubuh, penumpukan Vitamin D secara berlebihan juga bisa berbahaya. Apalagi jika tak sesuai dosis yang dianjurkan, vitamin ini malah dapat menjadi racun bagi tubuh atau yang disebut sebagai hipervitaminosis D.
Vitamin D dapat membantu tubuh menyerap kalsium dan mengedarkannya di dalam darah. Keracunan Vitamin D akibat konsumi berlebihan memang jarang terjadi. Nah, yang bisa Anda lakukan adalah mewaspadai dengan mengetahui gejalanya. Contohnya penumpukan kalsium dalam darah yang dapat memicu hiperkalsemia akibat kadar vitamin D di dalam tubuh yang terlalu tinggi.
Dilansir Insider, ada beberapa gejala yang patut diwaspadai sebagai penanda keracunan Vitamin D yaitu:
- mual
- kehilangan selera makan
- muntah
- lemah dan lesu
- nyeri tulang
Selanjutnya jika kelebihan kalsium ini dibiarkan, tubuh tidak menyimpannya di tulang namun malah akan menyimpannya di arteri dan jaringan tisu. Jika terjadi berlarut-larut, bisa memicu terbentuknya batu ginjal dan bahkan bisa merusak jantung.
Profesor dari University of California San Diego, Amerika Serikat, Paul Price, menyatakan potensi kerusakan jantung. Kerusakan jantung ini bisa disebabkan kelebihan kalsium dalam darah jika seseorang mengonsumsi vitamin D dalam takaran berlebih selama bertahun-tahun. Tes darah diperlukan untuk mendeteksi kadar kalsium dalam darah, yang menandakan seseorang keracunan vitamin D. Setelah seseorang terbukti mengalami keracunan vitamin D, maka ia harus menghentikan rutinitas mengonsumsi vitamin D dan multi vitamin lainnya.
Tes darah diperlukan untuk mendeteksi kadar kalsium dalam darah, yang menandakan seseorang keracunan vitamin D. Setelah seseorang terbukti mengalami keracunan vitamin D, maka ia harus menghentikan rutinitas mengonsumsi vitamin D dan multi vitamin lainnya. Penuhi kebutuhan Vitamin D secara tepat.
Ada beberapa cara untuk memenuhi kebutuhan Vitamin D agar optimal. Cara yang sering kita dengar ialah dengan berjemur di bawah matahari dan mengonsumsi suplemen Vitamin D. Dilansir laman resmi Universitas Airlangga, dr. Henry Suhendra, SpOT menyarankan agar memilih waktu berjemur guna mendapatkan Vitamin D terbaik. Menurutnya, waktu terbaik ialah antara jam 11 hingga 1 siang.
Ini Kata Pakar Unair Alumnus Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran (FK) Unair tersebut beralasan, waktu tersebut sesuai dengan hasil riset salah satu peneliti asal Boston yang datang ke Indonesia pada 2011 silam. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa kita tidak akan mendapatkan kadar Ultraviolet B secara maksimal pada pagi hari. “Kadar Ultraviolet B maksimum didapatkan bukan pagi hari, melainkan pada jam 11 hingga jam 1 siang,” ujarnya.
Selain itu, setidaknya 85 persen bagian tubuh harus terpapar sinar matahari secara langsung. Jika terhalang baju atau obyek lainnya, hanya Ultraviolet A yang didapatkan. Ultraviolet jenis ini tidak membentuk Vitamin D.
Henry menambahkan, lama waktu berjemur juga dipengaruhi oleh tipe kulit. Dari enam tipe kulit yang berbeda, mayoritas orang Asia Tenggara berada di urutan 4 dan 5. “Kita kalau jemur rata-rata perlu tiga sampai empat kali lebih banyak daripada bule-bule untuk mendapatkan Vitamin D yang sama. Itu susah, makanya bisa kita ganti juga dengan suplemen,” kata dia.
Secara umum, usia turut menentukan kebutuhan harian tubuh akan vitamin D. Dewasa di bawah 70 tahun membutuhkan asupan vitamin D lebih sedikit dibanding lansia di atas 70 tahun yang sudah tak lagi bisa memproduksi banyak vitamin D di kulitnya.
Jika berlebihan, Vitamin D yang bisa meracuni tubuh sendiri adalah yang dalam bentuk suplemen. Bukan vitamin D yang dibawa oleh sinar matahari atau makanan alami. Agar terhindar dari overdosis vitamin D, konsumsilah makanan tinggi vitamin D seperti ikan-ikanan, susu almond dan jamur. Apabila Anda ingin tetap mengonsumsi suplemen, pilih suplemen yang sudah terpercaya. Baca label untuk melihat izin edar dan komposisinya serta cermati takaran dosis yang dianjurkan.





